Di hadapan anggota Komisi XI DPR, Senin lalu, Thomas Djiwandono menyampaikan visinya tentang kerja sama fiskal dan moneter. Ia baru saja terpilih secara mufakat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Menurutnya, kolaborasi antara Kementerian Keuangan dan BI ke depan akan jauh berbeda dengan masa-masa darurat seperti pandemi dulu. Fokusnya kini adalah mendorong pertumbuhan ekonomi, bukan lagi sekadar penanganan krisis.
“Secara singkatnya, saya menekankan bahwa sinergi fiskal dan moneter itu sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi ke depan,” ujar Thomas.
“Dan sangat bisa karena kondisi ekonomi kita sedang baik. Moneter dan fiskal memang sudah bekerja sama selama ini,” tambahnya, sesaat sebelum penetapan dirinya.
Lalu, bagaimana dengan skema burden sharing yang sempat ramai dibicarakan? Thomas memberikan batasan yang jelas. Baginya, skema berbagi beban itu adalah instrumen masa lalu, lahir dari kondisi yang benar-benar luar biasa. Konteksnya sudah berbeda.
“Kalau burden sharing kan sama waktu itu pandemi. Intinya burden sharing itu sharing dari cost, dari cost biaya gitu,” jelasnya.
“Kalau yang sekarang saya katakan tadi adalah sinergi untuk pertumbuhan ekonomi. Ini beda. Burden sharing kan sudah suatu konsep yang masa lalu.”
Jadi, arahnya jelas. Sinergi yang ia maksud adalah upaya efisiensi likuiditas untuk mendukung ekspansi ekonomi. Termasuk di dalamnya, soal porsi pembelian SBN di pasar sekunder oleh BI. Thomas menyebut hal itu akan terus menyesuaikan dengan dinamika pasar, berjalan secara fleksibel.
Artikel Terkait
Bakoel Bamboe Ekspansi ke IKN dan Kalimantan, Siapkan IPO
Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Ditingkatkan ke Tahap Penyidikan
Arus Mudik Lebaran 2026 Sudah Bergerak, Puncak Diprediksi 18 Maret
KPK Tetapkan Bupati Cilacap Tersangka Kasus Pemerasan Dana THR