Dapur umum di SDN 1 Pasirlangu terus berasap. Di tengah kesibukan tim SAR yang berjuang mencari puluhan korban hilang, aroma masakan dari tenda darurat itu menjadi penanda kehidupan yang tak putus. Setiap harinya, tak kurang dari 4.500 bungkus nasi beserta lauk-pauk dihasilkan dari sana, untuk memenuhi perut ratusan pengungsi dan petugas yang bekerja tanpa lelah.
Bencana datang di tengah malam buta. Sabtu (24/1) dini hari, sekitar pukul dua, tanah di lereng curam Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, itu akhirnya ambrol. Hujan deras yang mengguyur sejak sehari sebelumnya membuat tanah jenuh air dan bergerak, menimbun permukiman warga di bawahnya. Akibatnya, 34 kepala keluarga atau 113 jiwa terdampak langsung.
Data per Minggu (25/1) malam menunjukkan situasi yang suram: 17 orang meninggal dunia, sementara 73 warga lainnya masih hilang dan terus dicari. Saat ini, 498 pengungsi terpaksa menempati aula Kantor Desa Pasirlangu. Tak hanya korban jiwa, 30 unit rumah warga di Kampung Pasirkuning dan sekitarnya juga rusak tertimbun.
Merespons keadaan, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat langsung menetapkan status Tanggap Darurat. Status ini berlaku hingga 6 Februari 2026 mendatang. Nah, di sinilah peran krusial dapur umum dan bantuan logistik lainnya bekerja.
“Kementerian Sosial menyalurkan bantuan logistik untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi,” jelas Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Senin (26/1).
Menurutnya, upaya ini dilakukan bersama pemerintah daerah dan unsur terkait untuk mendukung proses pencarian dan penanganan korban.
Bantuan dari pusat mengalir melalui Gudang Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Isinya beragam, mulai dari tenda serbaguna, tenda keluarga, kasur, selimut, hingga ratusan paket makanan siap saji dan perlengkapan khusus untuk anak-anak dan keluarga. Di lapangan, Dinas Sosial setempat bersama relawan Tagana bergerak cepat mendirikan dapur umum. Lokasinya strategis, di samping kantor desa, dengan pendanaan dari APBD kabupaten.
Di sisi lain, operasi pencarian tak kunjung berhenti. Tim gabungan yang melibatkan Basarnas, BNPB, BPBD, TNI, Polri, dan dinas sosial terus menyisir puing dan lumpur. Pekerjaan mereka sangat berat, namun semangat untuk menemukan saudara-saudara yang masih hilang tak pernah padam.
Jadi, sementara tim SAR berjuang di titik longsor, di bawah tenda dapur umum, para relawan juga berjuang dengan cara mereka sendiri: memastikan tidak ada seorang pun yang bertarung dengan perut kosong.
Artikel Terkait
Bupati Lampung Tengah Nonaktif Ardito Wijaya Dipindahkan ke Lapas Lampung Jelang Sidang Perdana
Kanselir Jerman Kecam AS dan Israel karena Meremehkan Kekuatan Iran
Transjakarta Sediakan Shuttle Gratis untuk Penumpang KRL Terdampak Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur
Lima Tim Kuda Hitam yang Siap Jadi Kejutan di Piala Dunia 2026