Sabtu lalu di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, suasana sempat meriah. Bali United unggul 3-2 atas Semen Padang hingga menit ke-75. Tapi, tiga poin yang hampir di kantong itu akhirnya menguap. Ripal Wahyudi menyamakan kedudukan di menit ke-79, mengunci skor akhir 3-3. Hasil yang, bagi pelatih Johnny Jansen, terasa seperti kekalahan.
Jansen tak menyembunyikan kekecewaannya. Yang paling membuatnya geram adalah lemahnya pertahanan timnya menghadapi bola-bola mati. Semua gol Semen Padang, menurutnya, berawal dari situasi set piece.
"Saya kurang puas. Kami kebobolan dua gol di babak pertama dari situasi itu," ujar Jansen.
"Di babak kedua kami berubah, melakukan pergantian dan berhasil balik unggul. Tapi ya itu, kami bobol lagi di menit akhir. Harus terima hasil imbang," sergah pelatih asal Belanda itu, seperti dikutip dari laman resmi klub.
Di sisi lain, Jansen mengakui keunggulan lawan. Set piece Semen Padang memang tajam. Masalahnya, Serdadu Tridatu terlalu mudah memberi kesempatan. Tendangan bebas, sepak pojok peluang itu diberikan begitu saja ke lawan.
"Mereka bagus dalam eksekusi, sementara kami terlalu royal memberi mereka kesempatan. Hasil ini jelas kurang bagus," keluhnya.
Imbas dari satu poin itu, Bali United kini tetap bertengger di posisi delapan klasemen dengan 28 poin. Nasib Semen Padang sedikit lebih suram: mereka masih terperosok di zona degradasi, peringkat 17 dengan hanya 11 poin. Bagi Jansen, ini adalah alarm. Perbaikan di sektor bertahan, terutama dalam mengantisipasi bola mati, mendesak untuk dilakukan jika ingin naik kelas.
Artikel Terkait
Pemprov Jakarta Padamkan Lampu di Sejumlah Kawasan Selama Satu Jam Peringati Hari Lingkungan Hidup
Ade Jona Prasetyo Pimpin HIPMI Periode 2026–2029, Terpilih Secara Aklamasi di Munas XVIII
KPK Tahan Ketua Tim Pemeriksa BPK Sumsel yang Terjaring OTT Suap Muara Enim
Pramono Anung Akan Kembangkan Lahan Eks BPSDM di Segitiga Emas Jakarta Tanpa APBD