Emas Diprediksi Tembus Rp2,8 Juta per Gram, Menuju Rekor 10.000 Dolar AS

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 04:35 WIB
Emas Diprediksi Tembus Rp2,8 Juta per Gram, Menuju Rekor 10.000 Dolar AS

JAKARTA Harga emas dunia lagi-lagi jadi perbincangan hangat. Kali ini, prediksinya benar-benar ambisius: logam kuning ini disebut-sebut bakal mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, dan tren kenaikannya diproyeksikan masih akan berlanjut hingga tahun 2030. Bahkan, ada angka fantastis yang beredar: 10.000 dolar AS per troy ons. Bukan main.

Pada perdagangan Jumat (23/1/2026) pagi, tepatnya pukul 05.36 GMT, sentimen positif sudah terlihat. Harga emas menguat 0,4 persen ke level 4.957,10 dolar AS. Angka ini seolah jadi pembuka panggung untuk sebuah lonjakan yang lebih dramatis.

Hans Kwee, praktisi pasar modal dan Co-Founder PasarDana, termasuk yang percaya pada skenario optimis ini. Dalam acara Edukasi Wartawan Pasar Modal yang digelar virtual, dia membeberkan analisisnya.

"Emas itu di 2030 diperkirakan masuk ke 10.000 dolar AS per troy ons," ujar Hans.

"Tapi ini masih empat tahun lagi dari sekarang. Nah, tahun ini saja targetnya sudah di kisaran 5.400 dolar AS."

Menurutnya, ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Kenaikan saat ini bukan cuma dipicu ketegangan geopolitik biasa, melainkan sebuah pergeseran fundamental ekonomi global. Dia mengutip proyeksi sejumlah raksasa keuangan seperti Bank of America, Goldman Sachs, dan Deutsche Bank yang memprediksi kenaikan hingga 20 persen dalam waktu dekat.

Intinya, dunia sedang memasuki fase de-dolarisasi. Bank-bank sentral di berbagai negara mulai gelisah. Mereka ramai-ramai menumpuk emas sebagai cadangan devisa, menggeser ketergantungan pada aset berbasis dolar AS yang dianggap mulai kurang aman.

"Emas naik karena tensi geopolitik, iya. Tapi pemicu utamanya justru muncul setelah perang Ukraina-Rusia, saat dolar Rusia dibekukan," jelas Hans.

"Peristiwa itu bikin dunia sadar, 'Kita nggak bisa begitu saja megang dolar'. Apalagi setelah Trump kembali jadi presiden, perang tarif yang merugikan membuat banyak negara kapok. Akhirnya, mereka beralih ke emas. Inilah yang membuat bank sentral beli emas terus-menerus."

Fenomena transisi global inilah, tuturnya, yang menjadi pendorong utama yang sangat kuat bagi aset safe haven tersebut. "Jadi, kenaikan emas itu bukan cuma karena geopolitik. Lebih dari itu, karena dunia sedang berubah, meninggalkan dolar dan beralih memegang emas."

Dampaknya di dalam negeri pun langsung terasa. Data dari Logam Mulia menunjukkan, harga emas Antam 24 karat hari ini melonjak drastis Rp90.000 per gram. Angkanya mencapai level baru yang fantastis: Rp2.880.000 per gram.

Lonjakan ini jelas bukan kebetulan. Ia mencerminkan tingginya permintaan investor lokal yang berusaha mengamankan asetnya. Di tengah fluktuasi nilai tukar dan ketidakpastian pasar finansial global, emas tetap dipandang sebagai pelabuhan yang paling teduh.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar