Penyelidikan kasus dugaan penipuan di PT Dana Syariah Indonesia (DSI) memasuki babak baru. Kantor perusahaan yang berlokasi di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan itu baru saja digeledah oleh penyidik Bareskrim Polri. Penggeledahan yang dilakukan oleh Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dit Tipideksus) itu sudah berakhir, dengan sejumlah barang bukti diamankan.
Brigjen Ade Safri Simanjuntak, selaku Direktur Tipideksus, membenarkan penyitaan itu. Menurutnya, langkah ini adalah bagian dari upaya mengumpulkan alat bukti untuk mengungkap kejadian sebenarnya dan mengidentifikasi pelaku.
"Di mana tahap penyidikan itu, penyidik akan mencari dan mengumpulkan alat bukti, yang dengan bukti itu, alat bukti itu akan membuat terang tindak pidana terjadi dan menemukan tersangkanya," jelas Ade pada Jumat (23/1/2026).
Sayangnya, dia enggan merinci barang bukti apa saja yang berhasil diamankan. Yang pasti, kasus ini sudah naik level.
"Nanti kita akan update, ya. Jadi yang jelas bahwa saat ini status penanganan perkara dalam perkara a quo ini adalah status tahapan penyidikan," tambahnya.
Dari penyelidikan awal, Ade menyebut sudah dipastikan ada unsur pidana di dalamnya. Makanya statusnya ditingkatkan ke tahap penyidikan. Sambil menunggu perkembangan, timnya masih memeriksa saksi-saksi kunci dan menganalisis barang bukti yang ada.
Targetnya jelas. Ade Safri menyatakan pihaknya akan segera menetapkan tersangka untuk kasus yang diduga bermodus skema ponzi ini. Semua upaya, kata dia, bertujuan untuk mengungkap kebenaran.
"Dalam rangka mencari dan mengumpulkan alat bukti guna membuat terang tindak pidana yang terjadi serta menemukan tersangkanya," pungkas Ade.
Kini, publik tinggal menunggu siapa nama yang akan muncul sebagai tersangka dalam kasus yang menyita perhatian ini.
Artikel Terkait
Trump Batalkan Misi Utusannya ke Pakistan untuk Jajaki Dialog dengan Iran
PPIH Terapkan Standar Akomodasi Ramah Lansia dan Disabilitas untuk Jemaah Haji 2026
Kapasitas PLTS Atap Indonesia Capai 1,3 GW, Pemerintah Targetkan 100 GW pada 2026
Menaker: Baru 27 Persen Pekerja Indonesia Kuasai Keterampilan Digital, Jauh di Bawah Standar Global