Siang ini, Dewan Gubernur Bank Indonesia kembali rapat. Di tengah suasana itu, LPEM UI mengeluarkan rekomendasi yang cukup jelas: tahan saja BI Rate di angka 4,75 persen. Lembaga penelitian UI itu merasa, langkah itu yang paling aman untuk menjaga stabilitas ekonomi di awal tahun 2026.
Riset mereka yang dirilis Rabu kemarin menyoroti beberapa tekanan. Inflasi pangan, misalnya, terdorong oleh bencana di Aceh, Sumbar, dan Sumut. Belum lagi pelemahan nilai tukar rupiah yang terus mengintai. Faktor-faktor itu diperkirakan akan jadi bahan pertimbangan serius bank sentral sebelum mengambil keputusan.
"Mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen dinilai menjadi langkah paling aman," tulis LPEM UI dalam pernyataannya.
Memang, situasi makroekonomi Indonesia lagi tidak mudah. Menjelang awal tahun, kita dihadapkan pada tekanan inflasi dari sisi pasokan, sementara ketidakpastian global mendorong dolar AS semakin perkasa. Desember lalu, inflasi umum tercatat 2,92 persen (yoy), naik dari bulan sebelumnya dan jadi level tertinggi sejak April 2024.
Penyebabnya? Gangguan pasokan pangan akibat cuaca ekstrem dan banjir di Sumatera, ditambah lonjakan permintaan saat libur Natal dan Tahun Baru. Harga cabai merah, cabai rawit, dan beras melambung. Tapi bukan cuma itu.
Tekanan juga datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang ikut terdongkrak lonjakan harga emas dunia. Sepanjang 2025, perhiasan emas jadi salah satu kontributor inflasi terbesar. Orang ramai-ramai berburu emas sebagai aset safe haven, menghadapi ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter global yang masih gelap.
Artikel Terkait
Tiga Direktur Travel Haji Diperiksa KPK, Jejak Korupsi Kuota Dibongkar
Gelombang Korban Penipuan Kamboja Serbu KBRI Phnom Penh
Pelaku Usaha Sambut Hangat Rencana BUMN Tekstil, Lihat Peluang Sinergi
Transjakarta, MRT, dan LRC Tembus 461 Juta Penumpang, Terbaik Kedua di Asia Tenggara