LPEM UI Desak BI Rate Bertahan di 4,75% di Tengah Badai Inflasi dan Rupiah Lunglai

- Rabu, 21 Januari 2026 | 14:00 WIB
LPEM UI Desak BI Rate Bertahan di 4,75% di Tengah Badai Inflasi dan Rupiah Lunglai

Siang ini, Dewan Gubernur Bank Indonesia kembali rapat. Di tengah suasana itu, LPEM UI mengeluarkan rekomendasi yang cukup jelas: tahan saja BI Rate di angka 4,75 persen. Lembaga penelitian UI itu merasa, langkah itu yang paling aman untuk menjaga stabilitas ekonomi di awal tahun 2026.

Riset mereka yang dirilis Rabu kemarin menyoroti beberapa tekanan. Inflasi pangan, misalnya, terdorong oleh bencana di Aceh, Sumbar, dan Sumut. Belum lagi pelemahan nilai tukar rupiah yang terus mengintai. Faktor-faktor itu diperkirakan akan jadi bahan pertimbangan serius bank sentral sebelum mengambil keputusan.

"Mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen dinilai menjadi langkah paling aman," tulis LPEM UI dalam pernyataannya.

Memang, situasi makroekonomi Indonesia lagi tidak mudah. Menjelang awal tahun, kita dihadapkan pada tekanan inflasi dari sisi pasokan, sementara ketidakpastian global mendorong dolar AS semakin perkasa. Desember lalu, inflasi umum tercatat 2,92 persen (yoy), naik dari bulan sebelumnya dan jadi level tertinggi sejak April 2024.

Penyebabnya? Gangguan pasokan pangan akibat cuaca ekstrem dan banjir di Sumatera, ditambah lonjakan permintaan saat libur Natal dan Tahun Baru. Harga cabai merah, cabai rawit, dan beras melambung. Tapi bukan cuma itu.

Tekanan juga datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang ikut terdongkrak lonjakan harga emas dunia. Sepanjang 2025, perhiasan emas jadi salah satu kontributor inflasi terbesar. Orang ramai-ramai berburu emas sebagai aset safe haven, menghadapi ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter global yang masih gelap.

Dari luar negeri, ceritanya tak kalah rumit. Meski aliran modal asing mulai masuk lagi sejak pertengahan Desember, rupiah tetap saja lunglai. Dolar AS menguat karena pasar menduga The Fed akan bertahan dengan suku bunga tingginya lebih lama, ditambah lagi ketegangan geopolitik yang bikin investor panik.

"Kondisi ini membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih berlanjut," begitu bunyi riset itu.

Nah, soal modal asing yang masuk itu, rupanya mayoritas cuma nyemplung ke instrumen jangka pendek seperti surat berharga BI atau obligasi pemerintah tenor pendek. Minat terhadap obligasi jangka panjang justru terbatas. Investor tampaknya masih hati-hati, khawatir dengan risiko fiskal domestik mengingat defisit anggaran 2025 yang nyaris sentuh batas atas hukum.

Di sisi lain, neraca perdagangan kita masih surplus di November 2025, meski nilainya menciut dibanding tahun sebelumnya. Ekspor melemah, baik migas maupun nonmigas, imbas turunnya harga minyak dunia dan permintaan dari China yang lesu. Sementara itu, impor justru naik, seiring menggeliatnya aktivitas manufaktur dalam negeri.

Jadi, dengan inflasi yang masih di dalam target tapi trennya naik, plus tekanan pada rupiah yang tak kunjung reda, memutuskan untuk melonggarkan kebijakan moneter memang berisiko. Menurunkan suku bunga bisa mempersempit selisih dengan suku bunga AS dan akhirnya justru menambah beban pada rupiah. Pilihan untuk bertahan di level saat ini, setidaknya untuk sementara, tampaknya punya alasan yang kuat.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar