Pendapat serupa datang dari Aurelia Santoso (25). Ia juga punya playlist berbeda untuk tiap kondisi.
“Jarak pendek aku pilih lagu-lagu pop-rap kayak Doja Cat atau Nicki Minaj biar semangat. Jarak jauh lebih ke R&B atau chill pop, kayak SZA dan Billie Eilish,” ujarnya.
Bagi Aurelia, musik jenis itu nggak bikin mikir berat. Alhasil, dia bisa tetap konsen pada ritme langkah dan pengaturan napas. Dari sekian banyak lagu, “I Don’t Care” dari Ed Sheeran dan Justin Bieber adalah penyelamat saat kondisi mulai drop. Vibes ringannya bisa bikin semangat kembali muncul.
Sementara itu, Dimas Prakoso (34) punya strategi yang lain lagi. Untuk lari jarak pendek, ia mengandalkan lagu rock atau electronic dengan tempo tinggi, sebut saja dari Imagine Dragons atau The Killers.
Sedangkan kalau mau lari jauh, ia lebih suka mendengarkan old pop atau soft rock ala U2, Coldplay, dan Fleetwood Mac. Lagu-lagu dengan nada stabil itu membantunya tetap aware dengan ritme tubuh, sehingga tenaga nggak cepat terkuras.
Yang menarik, Dimas bahkan punya playlist khusus untuk setiap fase dalam larinya.
“Kalau mulai lari biasanya aku putar ‘Viva La Vida’ karena bikin mood naik. Pas capek, aku ganti ‘Yellow’ supaya pace tetap santai dan nggak maksa,” ucapnya.
Jadi, ternyata memilih musik itu memang ada seninya sendiri. Sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi, maka lari pun jadi lebih menyenangkan.
Artikel Terkait
KPK Beraksi Dua Kali Sehari, Istana: Pekerjaan Rumah yang Harus Diperangi
Angkringan: Ruang Tamu Bersama yang Menyimpan Ribuan Cerita
Konektivitas Transjakarta Hampir Sempurna, Tapi Penumpang Masih Sepi
Rotasi Pejabat Ekonomi: Momentum Perkuat Sinkronisasi Fiskal-Moneter