Jakarta - Langkah Danantara Indonesia untuk membentuk BUMN di bidang tekstil semakin serius digodok. Sektor ini dianggap punya nilai strategis, terutama karena kemampuannya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Nah, rencana ini bukan sekadar wacana, tapi sedang dikaji mendalam.
Rosan Roeslani, CEO BPI Danantara, menjelaskan bahwa setiap keputusan investasi di perusahaannya selalu melalui proses studi kelayakan yang ketat. Tapi, ada hal yang menarik. Bagi Danantara, keuntungan finansial atau return bukan satu-satunya patokan. Mereka juga sangat mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi dari uang yang mereka tanamkan.
"Tentunya kita punya kriteria atau parameter yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah soal lapangan pekerjaan,"
ujar Rosan di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Dia melihat, industri tekstil punya karakter sebagai sektor padat karya yang perannya vital bagi perekonomian. Di sisi lain, Danantara juga jeli melihat peluang di perusahaan-perusahaan tekstil yang sedang terpuruk. Perusahaan seperti itu berpotensi untuk dibenahi atau dalam istilahnya, di-"turnaround" melalui restrukturisasi menyeluruh.
Artikel Terkait
Megawati Berhalangan Hadir di Istana karena Terikat Agenda di Bali
Jadwal Buka Puasa di Tangerang dan Tangerang Selatan Berbeda 9 Menit
Ekonom UOB: Daya Beli Menurun, Manufaktur Jadi Kunci Dongkrak Kelas Menengah
Menteri Pertanian Pastikan Stok Pangan Aman di Tengah Konflik Global