Kilang Balikpapan Lompat ke Era Euro 5 dengan Jantung Baru RFCC

- Minggu, 11 Januari 2026 | 19:30 WIB
Kilang Balikpapan Lompat ke Era Euro 5 dengan Jantung Baru RFCC

Kilang Balikpapan kini benar-benar berubah. Proyek modernisasi besar-besaran yang mereka jalankan, Refinery Development Master Plan (RDMP), akhirnya menemukan jantungnya: fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex. Unit pengolahan utama ini bukan sekadar tambahan biasa. Ia adalah lompatan strategis yang mengubah wajah kilang tua menjadi fasilitas berkelas dunia lebih efisien, bernilai tambah tinggi, dan tentu saja, lebih ramah lingkungan.

Intinya, RFCC Complex ini dirancang untuk mengolah sisa-sisa minyak yang berat, atau residu, yang sebelumnya kurang bernilai. Nah, residu itu kini diolah jadi produk bahan bakar berkualitas tinggi dan bahan baku petrokimia. Hasilnya? Kilang Balikpapan sekarang mampu memproduksi bahan bakar minyak (BBM) setara standar Euro 5. Artinya, lebih bersih dan emisinya jauh lebih rendah. Tak cuma itu, kilang ini juga mulai menghasilkan produk petrokimia seperti propylene dan sulfur.

Menurut Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication Pertamina, fasilitas RFCC ini jadi tulang punggung baru bagi operasional Kilang Balikpapan. Ia menyebutnya sebagai pendorong utama transisi menuju energi yang lebih bersih.

“Lewat RFCC Complex dan unit pendukungnya, kami mengalami peningkatan signifikan. Dulu standarnya Euro 2 dengan sulfur 2.500 ppm, sekarang jadi Euro 5 dengan sulfur cuma 10 ppm. Ini lompatan besar untuk kualitas BBM nasional,” ujar Baron.

Ia menambahkan, kapasitas kilang kini mencapai 360 ribu barel per hari. Selain bensin dan solar, kilang ini kini bisa menambah produksi LPG dan menghasilkan produk petrokimia yang sebelumnya tak bisa dibuat di sini.

“Perkiraan kami, ada penambahan produksi LPG sekitar 336 ribu ton per tahun. Ini tentu memperkuat pasokan dalam negeri dan perlahan mengurangi ketergantungan impor,” katanya.

Dari sisi teknis, dampaknya terlihat nyata pada angka-angka kinerja. Nelson Complexity Index (NCI) kilang ini melonjak dari 3,7 menjadi 8,0. Angka yang lebih tinggi menunjukkan kompleksitas dan kemampuan kilang untuk menghasilkan produk bernilai lebih banyak. Sementara itu, Yield Valuable Product (YVP) atau imbal hasil produk bernilai melesat dari 75,3% menjadi 91,8%. Kenaikan sekitar 16% itu bicara soal efisiensi dan daya saing yang jauh lebih baik.

Di sisi lain, inovasi ini juga membuka peluang baru. Minyak residu yang dulu sulit diolah, kini bisa diubah jadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene. Hal ini tak cuma meningkatkan nilai ekonomi kilang, tapi juga memperluas peran Kilang Balikpapan dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional.

Baron menegaskan, kehadiran RFCC Complex lebih dari sekadar pembaruan teknologi.

“Ini simbol kesiapan Pertamia menyongsong era baru pengolahan kilang modern. Juga wujud nyata dukungan kami untuk swasembada energi, seperti yang diamanatkan dalam Asta Cita Pemerintah,” pungkasnya.

Sebagai perusahaan yang mengusung transisi energi, Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060. Seluruh upaya modernisasi ini, kata mereka, sejalan dengan transformasi korporat yang berorientasi pada tata kelola baik, pelayanan publik, serta prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di semua lini bisnisnya.

(Febrina Ratna Iskana)

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar