Kilang Balikpapan kini benar-benar berubah. Proyek modernisasi besar-besaran yang mereka jalankan, Refinery Development Master Plan (RDMP), akhirnya menemukan jantungnya: fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex. Unit pengolahan utama ini bukan sekadar tambahan biasa. Ia adalah lompatan strategis yang mengubah wajah kilang tua menjadi fasilitas berkelas dunia lebih efisien, bernilai tambah tinggi, dan tentu saja, lebih ramah lingkungan.
Intinya, RFCC Complex ini dirancang untuk mengolah sisa-sisa minyak yang berat, atau residu, yang sebelumnya kurang bernilai. Nah, residu itu kini diolah jadi produk bahan bakar berkualitas tinggi dan bahan baku petrokimia. Hasilnya? Kilang Balikpapan sekarang mampu memproduksi bahan bakar minyak (BBM) setara standar Euro 5. Artinya, lebih bersih dan emisinya jauh lebih rendah. Tak cuma itu, kilang ini juga mulai menghasilkan produk petrokimia seperti propylene dan sulfur.
Menurut Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication Pertamina, fasilitas RFCC ini jadi tulang punggung baru bagi operasional Kilang Balikpapan. Ia menyebutnya sebagai pendorong utama transisi menuju energi yang lebih bersih.
Ia menambahkan, kapasitas kilang kini mencapai 360 ribu barel per hari. Selain bensin dan solar, kilang ini kini bisa menambah produksi LPG dan menghasilkan produk petrokimia yang sebelumnya tak bisa dibuat di sini.
Dari sisi teknis, dampaknya terlihat nyata pada angka-angka kinerja. Nelson Complexity Index (NCI) kilang ini melonjak dari 3,7 menjadi 8,0. Angka yang lebih tinggi menunjukkan kompleksitas dan kemampuan kilang untuk menghasilkan produk bernilai lebih banyak. Sementara itu, Yield Valuable Product (YVP) atau imbal hasil produk bernilai melesat dari 75,3% menjadi 91,8%. Kenaikan sekitar 16% itu bicara soal efisiensi dan daya saing yang jauh lebih baik.
Artikel Terkait
Prabowo Ingin Petugas Haji Semua dari TNI-Polri, Kenyataannya Tak Sesederhana Itu
Aroma: Pemberontak Diam yang Menggoyang Kedaulatan Akal
Keluarga Gugat JetBlue Usai Penumpang Stroke Tak Tertolong di Pesawat
FCC Beri Izin, Armada Satelit Starlink Elon Musk Bakal Tembus 15.000 Unit