Prabowo Resmikan Sekolah Rakyat, Jawab 3 Juta Anak Putus Sekolah

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 16:20 WIB
Prabowo Resmikan Sekolah Rakyat, Jawab 3 Juta Anak Putus Sekolah

Senin depan, 12 Januari 2026, suasana di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dipastikan akan berbeda. Presiden Prabowo Subianto diagendakan hadir langsung di kota itu, didampingi sederet menteri Kabinet Merah Putih dan sejumlah kepala daerah. Agenda utamanya: meresmikan program Sekolah Rakyat.

Acara puncak rencananya bakal dipusatkan di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru, yang lokasinya tak jauh dari Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS). Menurut siaran pers dari Humas Kemensos, ini bukan sekadar seremoni biasa. Momen ini akan menandai peluncuran resmi 166 titik Sekolah Rakyat rintisan yang sudah berjalan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, sudah lebih dulu membocorkan kabar ini. “Hari Senin nanti akan diresmikan atau diluncurkan secara resmi Sekolah Rakyat rintisan di 166 titik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu lalu.

Gagasan ini, menurut Gus Ipul, murni berasal dari Presiden Prabowo. Intinya, program ini ingin menyentuh kelompok masyarakat yang kerap terlewat dalam gelombang pembangunan. Caranya? Dengan membuka akses pendidikan berkualitas untuk anak-anak sekaligus memberdayakan orang tuanya.

“Karena ini bagian dari pengentasan kemiskinan. Anaknya sekolah, keluarganya diberdayakan. Anaknya lulus, keluarganya naik kelas menjadi berdaya,” jelasnya.

Ia menegaskan, Kemensos memang punya tanggung jawab penuh menyelenggarakan program ini. Alasannya sederhana tapi mendasar: Sekolah Rakyat adalah salah satu strategi kunci memutus mata rantai kemiskinan. “Ini istimewa dan ini tentu legacy dari Bapak Presiden Prabowo,” tambah Gus Ipul.

Latar belakangnya jelas dan pilu. Data BPS menyodorkan angka yang memprihatinkan: lebih dari tiga juta anak usia sekolah tercatat tidak bersekolah, putus sekolah, atau berisiko tinggi untuk berhenti belajar. Mereka inilah yang menjadi sasaran program ini.

“Saya ingin sampaikan tiga juta lebih data BPS menunjukkan, anak-anak di usia sekolah mereka tidak sekolah, belum sekolah, putus sekolah dan berpotensi untuk putus sekolah. Nah sebagian di antara mereka itu sekarang berada di Sekolah Rakyat,” papar Gus Ipul.

Bagi Gus Ipul, anak-anak ini adalah calon Generasi Emas 2045. Mereka harus mendapat perhatian negara, sesuai amanat konstitusi. “Ini kelihatannya sederhana, tetapi sangat mendasar,” katanya.

Konsepnya memang dirancang sebagai miniatur pengentasan kemiskinan. Tak cuma sekadar menyekolahkan anak. Dukungan diberikan secara menyeluruh. “Rumahnya nanti akan dibantu, orang tuanya jadi anggota Koperasi Desa Merah Putih, dapat bantuan sosial lengkap, dapat PBI JKN, dapat makan bergizi dan cek kesehatan,” tuturnya menggambarkan skema yang terintegrasi.

Saat ini, program rintisan sudah menjalankan aktivitasnya. Lebih dari 15 ribu siswa sudah terdaftar di 166 titik yang tersebar di berbagai penjuru daerah. Proses belajarnya pun mengadopsi teknologi. Setiap siswa dapat laptop, dan di kelas sudah menggunakan smartboard. Sistem pembelajarannya memanfaatkan platform digital atau LMS.

Yang menarik, kurikulumnya tidak berfokus pada akademik semata. Pembentukan karakter dan keterampilan punya porsi penting. Bahkan, untuk penerimaan siswanya, tidak ada tes akademik yang menegangkan. Metodenya lebih pada pemetaan potensi untuk menemukan talenta unik setiap anak.

Lalu, bagaimana nasib mereka setelah lulus? Pemerintah mengklaim sudah menyiapkan jalur lanjutan. Ada skema beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, juga akses ke dunia kerja lewat berbagai kerja sama.

Target peserta program ini spesifik: anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang terdata dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi (DTSE) desil 1 dan 2. Tanpa seleksi akademik. Tujuannya jelas: memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan.

Ke depan, program ini masih akan terus berkembang. Dari 166 titik rintisan yang ada, proses pembukaan di lokasi baru terus berjalan. Targetnya, pada 2029 nanti sudah ada 500 titik Sekolah Rakyat. Di sisi lain, pembangunan sekolah permanen juga sudah dimulai di 104 lokasi, dengan target 200 titik di tahun 2007.

Dengan sekolah permanen yang daya tampungnya bisa mencapai seribu siswa per titik, harapannya program ini kelak bisa menjangkau setengah juta siswa. Sebuah langkah besar, yang dimulai dari Banjarbaru pekan depan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar