Upaya ini bukan hal baru. Sebenarnya, pemulihan pascabencana di Aceh sudah berjalan sejak akhir November tahun lalu. Lebih dari seratus personel dikerahkan untuk menangani berbagai sektor, mulai dari sumber daya air, bina marga, hingga fasilitas dasar masyarakat.
Dukungan juga mengalir ke ruas Gayo Lues–Blangkejeren. Belasan unit excavator dan wheel loader bekerja siang malam memperbaiki badan jalan. Wilayah-wilayah seperti Lawe Alas, Natam, Ketambe, dan Kampung Simpur tak ketinggalan. Di sana, pekerjaan mencakup perbaikan jalan akses dan pembangunan tanggul sungai untuk mengamankan jalur dari ancaman banjir berikutnya.
Pada koridor Gayo Lues–Kutacane, perhatian tertuju pada Jembatan Lawe Penanggalan dan Jembatan Mengkudu I. Pekerjaan di sana cukup kompleks, meliputi pengalihan aliran sungai, pembuatan tanggul, pemindahan jalan akses sementara, hingga perbaikan jalan yang terkikis erosi.
Tak hanya jalan. Rehabilitasi instalasi pengolahan air (IPA) juga digarap. Tujuannya jelas, memulihkan layanan air bersih bagi warga yang sangat membutuhkan.
Di Aceh Tamiang, percepatan pemulihan dilakukan di sejumlah titik seperti Karang Baru, Kuala Simpang, hingga Desa Lintang Kuala. Lebih dari sepuluh unit alat berat excavator, motor grader, dump truck beroperasi di sana.
Pemerintah berharap, semua upaya percepatan ini bisa membawa dampak nyata. Pemulihan akses jalan dan jembatan diharapkan dapat mempercepat pemulihan sosial ekonomi masyarakat. Terutama bagi mereka di wilayah terpencil yang hidupnya sangat bergantung pada jalur darat untuk perdagangan, anak-anak sekolah, dan layanan kesehatan.
Kerja masih panjang. Tapi setidaknya, langkah pertama untuk kembali beraktivitas sudah dimulai.
Artikel Terkait
Perundingan AS-Iran di Islamabad Berakhir Deadlock, Isu Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Ganjalan
Ketua Jalinan Alumni Timur Tengah: Pernyataan JK Soal Syahid Dicabut dari Konteks, Bukan Ajaran Agama
KAI Tegaskan Aksi Taruh Batu di Rel Bekasi Bisa Anjlokan Kereta
Bulog Pastikan Stok Beras Nasional Aman untuk 11 Bulan ke Depan