Persiapan tahun ini jelas lebih matang. Tim sudah disiapkan untuk melakukan pemetaan dan mitigasi risiko sejak dini. Mulai dari antisipasi perubahan kebijakan Saudi, cuaca ekstrem yang panas terik, hingga tentu saja, kondisi kesehatan jamaah.
Perhatian juga diberikan pada momen kritis puncak haji. Kekacauan kerap terjadi saat perpindahan massal dari Arafah ke Musdalifah dan Mina. Untuk mengurai kepadatan itu, Kementerian akan mengatur ulang skema pergerakan (Murur) dan penurunan (Tanazul) jamaah dengan pendataan yang lebih ketat.
Secara kuota, Indonesia mendapat jatah 221.000 jamaah untuk haji 1447 H/2026 M. Rinciannya, 203.320 untuk haji reguler (92%) dan 17.680 untuk haji khusus (8%). Kuota lansia menyisir sekitar 5% dari total tersebut.
Intinya, semua upaya diperketat. Pemerintah tak mau ada lagi cerita pilu di tanah suci. Persiapan fisik bukan lagi sekadar formalitas, tapi sebuah keharusan yang tak bisa ditawar.
Artikel Terkait
Polisi Siap Panggil Dua Saksi Kasus Pandji Pragiwaksono
Pandji dan Batas Humor: Ketika Lelucon Menyentuh Tubuh
Gol Bunuh Diri di Menit Akir Antarkan Vietnam U-23 ke Ambang Perempatfinal
Suzuki S-Presso Berubah Jadi Mini Jimny, Pedagang Bali Pasang Harga Rp 188 Juta