Lain cerita dengan gas bumi. Di sektor ini, lifting rata-rata sepanjang 2025 tercatat 951,8 ribu barel setara minyak per hari. Sayangnya, angka ini belum menyentuh target APBN yang dipatok di 1.005 ribu. Pemerintah sendiri menilai capaian ini tetap stabil, mengingat tantangan yang dihadapi tidak mudah. Ada faktor penurunan produksi alamiah dari lapangan migas tua, ditambah infrastruktur di beberapa wilayah yang masih terbatas.
Data bulanan menunjukkan kinerja gas berfluktuasi antara 913,7 hingga 977,9 ribu barel setara minyak. Pencapaian tertinggi terjadi di Maret, sementara Agustus menjadi bulan dengan produksi paling rendah. Menjelang tutup tahun, ada penguatan lagi lifting di Desember naik ke level 964,0.
Nah, untuk menjaga momentum ini, pemerintah punya sejumlah strategi. Bahlil menegaskan, upaya optimalisasi produksi akan terus didorong. Caranya lewat percepatan proyek hulu migas, menghidupkan kembali sumur-sumur yang menganggur, dan mengembangkan lapangan baru. Penyederhanaan perizinan dan pemberian insentif investasi juga jadi bagian dari paket kebijakan untuk menjaga keberlanjutan produksi nasional.
Harapannya jelas. Tren positif di sektor minyak ini bisa jadi modal berharga untuk memperbaiki kinerja lifting migas secara keseluruhan di tahun 2026. Apalagi, sejumlah proyek pengembangan lapangan baru diprediksi mulai beroperasi, dan aktivitas eksplorasi juga semakin digenjot. Mari kita nantikan bersama.
Artikel Terkait
David da Silva Siap Tinggalkan Nostalgia, Bawa Malut United Serang Markas Persebaya
Ekonom UI: Defisit APBN 2025 Masih Aman, Bukan Sinyal Krisis
KPK Beberkan Pengembalian Rp 100 Miliar Terkait Kasus Kuota Haji
Kemnaker Tegaskan: Kabar Cairnya BSU 2026 Masih Hoaks, Waspada Penipuan!