WASHINGTON - Ancaman keras datang dari lingkaran dalam mantan Presiden AS Donald Trump. Kali ini, sasarannya adalah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Intimidasi itu disampaikan lewat mulut sekutu Trump, Senator Republik Lindsey Graham, yang tak ragu menyebut kata "membunuh" secara gamblang.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Graham menyampaikan pesan yang terang benderang. Suaranya tegas, bak peringatan langsung dari Trump sendiri.
"Kepada Ayatollah: Anda harus paham, jika Anda terus membunuh rakyat Anda yang menuntut kehidupan lebih baik, Donald J Trump akan membunuh Anda," ujar Graham, Rabu (7/1/2026).
Dia tak berhenti di situ. Graham seolah ingin memberi angin pada gelombang protes yang melanda Iran. "Kepada rakyat Iran, bantuan sedang dalam perjalanan," tambahnya penuh keyakinan. Menurutnya, perubahan besar sedang menanti, bahkan bisa jadi pergeseran terbesar di kawasan Timur Tengah.
Ancaman ini bukan muncul dari ruang hampa. Beberapa hari sebelumnya, Khamenei sempat mengakui bahwa tuntutan para demonstran itu masuk akal. Namun begitu, dia tetap bersikukuh bahwa kerusuhan tak akan ditoleransi. Pemerintah Iran pun disebut tengah berunding dengan para pemilik toko di Teheran yang ikut mogok, berusaha meredakan situasi.
Memang, situasi di Iran sedang memanas. Gelombang demonstrasi besar-besaran telah mengguncang negara itu selama sepekan terakhir. Pemicunya klasik tapi mendalam: ekonomi yang terpuruk. Nilai mata uang rial terjun bebas, menyentuh angka fantastis di atas 1,35 juta untuk satu dolar AS. Rakyat lelah, dan kemarahan mereka meluap ke jalanan.
Di tengah gejolak itu, Donald Trump sebelumnya sudah lebih dulu melemparkan pernyataan provokatif. Dia berjanji AS akan "menyelamatkan" para demonstran jika pemerintah Iran menggunakan kekuatan mematikan. Ucapan itu, tentu saja, langsung dibalas dengan kemarahan oleh para pejabat tinggi di Teheran.
Kini, dengan ancaman terbuka dari Graham yang mengatasnamakan Trump, ketegangan antara Washington dan Teheran memasuki babak baru yang lebih berbahaya. Sebuah ancaman personal yang langka, dan bisa memicu konsekuensi yang tak terduga.
Artikel Terkait
Partai Perindo Wonosobo Targetkan Rekrut Seribu Anggota Baru di Dapil 2
KPK OTT 11 Orang Terkait Suap Tutup Temuan BPK di Pengadaan Smart TV Muara Enim
Pemerintah Jajaki Ekspor Ceker Ayam ke Malaysia dan China Manfaatkan Surplus Produksi Unggas
Prabowo Jawab Kritik Frekuensi Kunjungan ke Luar Negeri: Sama Seperti Jokowi Dulu, Tetap Disalahkan