Pemerintah Jajaki Ekspor Ceker Ayam ke Malaysia dan China Manfaatkan Surplus Produksi Unggas

- Rabu, 10 Juni 2026 | 16:40 WIB
Pemerintah Jajaki Ekspor Ceker Ayam ke Malaysia dan China Manfaatkan Surplus Produksi Unggas

Pemerintah Indonesia tengah menjajaki peluang ekspor ceker ayam ke Malaysia dan China sebagai bagian dari strategi memperluas pasar produk peternakan nasional. Langkah ini diambil seiring dengan surplus produksi daging ayam dan telur yang terus terjadi di dalam negeri.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini mampu mempertahankan swasembada daging ayam dan telur. Bahkan, lanjutnya, surplus produksi yang tercatat membuka peluang untuk meningkatkan ekspor ke berbagai negara tujuan.

Menurut Agung, melimpahnya produksi ayam mendorong pemerintah untuk mencari pasar ekspor baru. Dua negara yang tengah dijajaki adalah Malaysia dan China, khususnya untuk komoditas ceker ayam.

“Salah satunya lagi yang paling dekat kita ekspor produk ayam kita ke Malaysia. Ini juga termasuk China, ceker ayam kita. Jadi banyak komoditas yang sedang kita dorong untuk ekspornya, dan saat ini sudah dilakukan negosiasi-negosiasi, termasuk tentu dengan buyer-buyernya, calon buyernya,” kata Agung di Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Saat ini, pemerintah tengah melakukan berbagai negosiasi untuk membuka akses pasar baru bagi produk peternakan Indonesia. Proses tersebut tidak hanya melibatkan pemerintah antarnegara, tetapi juga penjajakan langsung dengan calon pembeli di negara tujuan.

“Jadi banyak sekali negara-negara tujuan ekspor yang baru yang ingin kita buka. Dan tentu untuk bisa ekspor, bukan hanya persyaratan G to G (government to government), tetapi juga ada persyaratan unit usaha yang akan mengekspor komoditasnya itu,” ujarnya.

Dalam upaya memperluas peluang ekspor dan investasi sektor peternakan, Kementerian Pertanian menggelar acara Indolivestock 2026 Expo & Forum pada 16 hingga 18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE). Menurut Agung, ajang tersebut tidak hanya menjadi pameran industri peternakan, tetapi juga sarana diplomasi ekonomi Indonesia di hadapan pelaku usaha dan mitra internasional.

Kegiatan ini akan mempertemukan peternak, industri, akademisi, asosiasi profesi, serta pemerintah pusat dan daerah dalam satu forum konsolidasi nasional. Di sisi lain, Indolivestock 2026 juga akan menjadi wadah promosi investasi dan ekspor komoditas peternakan unggulan Indonesia.

Kementerian Pertanian pun akan membuka paviliun ekspor untuk memberikan pendampingan kepada pelaku usaha yang ingin memperluas pasar produknya ke luar negeri. “Kita membuka paviliun Indonesia. Di situ salah satunya adalah terkait dengan potensi ekspor, kemudian fasilitasi ekspor, termasuk komoditas-komoditas ekspor yang sudah kita lakukan,” kata dia.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar