AS Serang Iran Balas Jatuhnya Helikopter Apache, Iran Balas dengan Rudal Balistik

- Rabu, 10 Juni 2026 | 18:45 WIB
AS Serang Iran Balas Jatuhnya Helikopter Apache, Iran Balas dengan Rudal Balistik

Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu (10/6) dini hari sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache milik AS, demikian diumumkan Komando Pusat AS (CENTCOM). Tindakan ini disebut sebagai balasan yang setimpal atas agresi yang dinilai tidak dapat dibenarkan.

“Misi ini merupakan balasan yang setimpal terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan,” tulis CENTCOM melalui akun resmi mereka di platform X. Serangan tersebut dilakukan atas arahan langsung Presiden AS Donald Trump.

Sebelumnya, Trump menuduh Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter tersebut dan berjanji akan memberikan balasan. Ia menggambarkan respons AS sebagai tindakan yang “sangat tegas, sangat kuat.”

Serangan militer AS menargetkan sejumlah sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan sistem radar Iran di dekat Selat Hormuz. Menurut pernyataan CENTCOM, sasaran tersebut dipilih untuk melemahkan kemampuan pertahanan Iran di kawasan strategis itu.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi langsung merespons dengan pernyataan keras. “Meskipun mengalami kekalahan di medan perang, AS memilih untuk menguji determinasi kami,” tulisnya di akun X. Ia menambahkan bahwa AS harus “meninggalkan kawasan kami” jika ingin mendapatkan keamanan. “Sejarah Teluk Persia memiliki banyak babak tentang nasib buruk pihak luar yang ikut campur,” lanjutnya.

Tak berselang lama, Iran melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan Yordania. Media lokal Iran melaporkan bahwa Teheran menggunakan rudal balistik dalam serangan tersebut. Akibatnya, Kuwait dan Bahrain membunyikan sirine peringatan serta mengoperasikan pertahanan udara untuk menghalau serangan.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan telah melancarkan serangan drone ke Armada Kelima AS di Bahrain sebagai balasan atas serangan militer AS sepanjang malam. Sementara itu, Yordania mengklaim telah menembak jatuh lima rudal yang ditembakkan Iran ke pangkalan udara Muwaffaq Salti, yang menampung jet tempur F-35 dan pesawat AS lainnya.

Menurut laporan media AS, serangan terhadap Iran dilakukan dalam tiga gelombang dan menargetkan sekitar 20 lokasi. Media lokal Iran melaporkan ledakan terdengar di beberapa wilayah, termasuk di bagian timur Provinsi Hormozgan di barat daya. Kantor berita Fars menyebut ledakan terjadi di sejumlah kota seperti Kuhestak, Sirik, dan Minab, sementara kantor berita Mehr melaporkan adanya ledakan di Bandar Abbas.

Ketegangan ini dipicu oleh jatuhnya helikopter serang AH-64 Apache milik Angkatan Darat AS di dekat Selat Hormuz. Seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim mengatakan helikopter tersebut bertabrakan dengan drone Iran. Namun, belum ada konfirmasi apakah tabrakan itu disengaja atau tidak. Pernyataan resmi menyebut kecelakaan itu masih dalam tahap penyelidikan.

Operasi penyelamatan menggunakan drone yang dilakukan militer AS berhasil menyelamatkan kedua kru helikopter pada Selasa (9/6) waktu setempat. Presiden Trump menyatakan bahwa kedua kru tersebut “selamat dan tidak terluka.” Helikopter AH-64 Apache sendiri merupakan aset utama militer AS dalam operasi blokade terhadap pengiriman minyak mentah dan kapal tanker Iran. Operasi ini bertujuan menekan Teheran agar mau menyepakati perjanjian. Selain itu, helikopter jenis ini juga pernah digunakan oleh Uni Emirat Arab untuk menembak jatuh drone milik Iran.

Rentetan aksi saling serang ini semakin memperburuk dampak perang yang dimulai sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Secara global, konflik ini telah mengguncang ekonomi, memicu lonjakan harga energi, dan membuat harga kebutuhan pokok melonjak tajam.

Sebelum menuduh Iran menjatuhkan helikopter AS, Trump sempat mengungkapkan optimismenya soal negosiasi dengan Iran, meskipun ia tidak menyampaikan alasan di balik sikap optimis tersebut. Para mediator yang sebagian besar dipimpin oleh Pakistan telah berupaya selama berminggu-minggu untuk merealisasikan kesepakatan damai. Namun, kedua pihak masih bersikeras dengan keinginannya masing-masing.

AS menginginkan Iran menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya. Cadangan ini diyakini telah terkubur akibat serangan udara AS saat perang 12 hari pada tahun 2025. Di sisi lain, Iran menuntut pembebasan asetnya yang dibekukan sebelum kesepakatan tercapai, sebuah permintaan yang ditolak oleh Trump. Perbedaan mendasar ini membuat jalan menuju perdamaian semakin terjal di tengah eskalasi militer yang terus berlangsung.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar