Yang patut disorot, produk lokal ternyata punya porsi yang sangat menggembirakan. Kontribusinya mencapai 45,6 persen dari total transaksi, atau setara dengan Rp16,6 triliun. Angka ini naik sekitar 3 persen atau Rp500 miliar dibanding tahun 2024. Tiga kategori produk dalam negeri yang paling laris adalah fesyen dan pakaian olahraga, produk perawatan diri, serta makanan dan minuman.
Di sisi lain, cara orang berbelanja juga berubah. Fitur live shopping atau belanja langsung secara daring menjadi primadona baru. Menurut paparan Mendag, fitur ini diminati oleh 80 persen konsumen. Daya tariknya terletak pada interaksi langsung dan ulasan produk yang disajikan secara real-time.
Bandingkan dengan fitur gamifikasi seperti kumpul poin atau naik peringkat, yang hanya menarik minat 31 persen konsumen. Fitur lelang bahkan lebih sepi lagi, cuma diminati 7 persen. Pola promosi lewat afiliator juga terbukti jitu. Sebanyak 54 persen konsumen mengaku membeli barang melalui tautan yang dibagikan para afiliator di media sosial.
Menutup pernyataannya, Mendag menegaskan peran strategis Harbolnas. Ia berharap program ini, bersama EPIC Sale dan BINA Great Sale, bisa terus mendorong pertumbuhan ekonomi di triwulan akhir tahun.
Artikel Terkait
BPOM Resmi Larang Peredaran Bebas Gas Ketawa, Kini Berstatus Gas Medis
Transaksi QRIS Tumbuh 89%, Jumlah Pedagang Mikro Naik Dua Kali Lipat
Pegadaian dan SMBC Jepang Jalin Kerja Sama Pendanaan untuk Ultra Mikro dan UMKM
KainIndonesia.co Sulap Wastra Nusantara Jadi Fesyen Modern, Didukung LinkUMKM BRI