Sumatera Utara baru saja mendapat suntikan teknologi untuk ruang kelasnya. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengirimkan lebih dari 17 ribu unit papan tulis digital, atau Interactive Flat Panel (IFP), ke ratusan sekolah di provinsi tersebut. Ini adalah langkah nyata untuk mendorong digitalisasi sekaligus mengubah cara belajar-mengajar jadi lebih modern.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, memberikan konfirmasinya.
“Untuk digitalisasi pendidikan di Sumut, sebanyak 17.073 unit sudah terkirim. Yang masih dalam perjalanan tinggal delapan unit saja,” ujarnya pada Minggu (4/1/2025).
Di Kota Medan, penyerapannya terbilang signifikan. Sekolah-sekolah di ibu kota provinsi itu telah menerima 2.047 unit papan interaktif. Rinciannya beragam, mulai dari 359 unit untuk PAUD, 912 untuk SD, hingga ratusan unit untuk jenjang SMP, SMA, dan SMK. Bahana, program serupa secara nasional sudah menjangkau hampir 289 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Angka yang cukup fantastis.
Namun begitu, digitalisasi bukan satu-satunya fokus. Di sisi lain, program revitalisasi fisik sekolah juga berjalan. Di Sumut, ada 897 satuan pendidikan yang direvitalisasi dengan anggaran tak main-main: Rp852 miliar. Cakupannya luas, dari PAUD, SD, SMP, hingga sekolah kejuruan dan luar biasa.
“Dari total itu, yang sudah selesai seratus persen sekitar 39 persen atau 349 sekolah,” jelas Mu’ti.
Ia mengakui masih ada 431 sekolah yang pembangunannya masih berlangsung. Sebanyak 117 sekolah lainnya sudah mendekati finish, dengan progres di atas 95 persen.
Khusus di Medan, anggaran Rp47,4 miliar dialokasikan untuk merevitalisasi 48 sekolah tahun ini. Hasilnya? Sekitar separuhnya, tepatnya 24 sekolah, masih di bawah progres 95 persen. Tapi kabar baiknya, 21 sekolah lainnya sudah dinyatakan rampung total.
Untuk yang belum selesai, ada target waktu yang jelas.
“Ditargetkan rampung 100 persen pada akhir Januari 2026. Mudah-mudahan pada Februari seluruhnya sudah dapat digunakan sepenuhnya untuk pembelajaran yang berkualitas,” harap Mu’ti.
Jadi, dua program besar ini digitalisasi dan revitalisasi seperti dua sisi mata uang yang sama: mempersiapkan lingkungan belajar yang lebih layak dan relevan untuk guru dan siswa. Perjalanannya masih panjang, tapi langkah awalnya sudah terlihat.
Artikel Terkait
AS Yakinkan Mitra Dagang Soal Keberlanjutan Kesepakatan Meski Tarif Baru Berlaku
Defisit APBN Januari 2026 Capai Rp54,6 Triliun, Menkeu: Masih Terkendali
Ekonom INDEF Soroti Potensi Kerugian Rp 4 Triliun dan Waktu Balik Modal Proyek Whoosh Capai 100 Tahun
Menkeu Purbaya Sindir Viral Alumni LPDP: 20 Tahun Lagi Akan Nyese!