Sabtu lalu, dunia dikejutkan oleh berita yang nyaris tak terpercaya. Militer Amerika Serikat dilaporkan menyerang Caracas, ibu kota Venezuela. Lebih dari itu, mereka juga berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Peristiwa dramatis ini terjadi pada 3 Januari 2026 waktu setempat.
Keesokan harinya, Presiden AS Donald Trump tampil untuk mengonfirmasi serangan tersebut. Dalam pernyataannya, Trump menyebut operasi skala besar ini berhasil dilaksanakan.
"Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya," ujarnya.
Trump mengklaim operasi itu dilakukan karena sejumlah alasan, salah satunya adalah dugaan kuat keterlibatan rezim Maduro dalam jaringan narkotika internasional. Namun begitu, dia sama sekali tidak memerinci bagaimana proses penangkapan itu berlangsung atau lembaga mana saja yang turun tangan. Yang jelas, Maduro dan istrinya disebut sudah dibawa keluar dari Venezuela.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama Maduro berhadapan dengan hukum AS. Sejak 2020, dia sudah tercatat sebagai tersangka dengan dakwaan terorisme dan narkoba. Tapi, banyak pengamat yang melihat ini bukan sekadar soal penegakan hukum. Ada aroma intervensi yang kuat, dengan tujuan menguasai sumber daya alam Venezuela yang melimpah. Minyak, tentu saja, jadi sorotan utama.
Maduro sendiri pernah mengungkapkan kekhawatiran ini dalam sebuah wawancara. Dan kini, setelah penangkapannya, pernyataan itu terasa begitu relevan. Lalu, sebesar apa sebenarnya kekayaan minyak negeri di Amerika Selatan itu?
Angkanya sungguh fantastis. Menurut laporan Sky News, Venezuela menyimpan sekitar 303 miliar barel minyak. Itu setara dengan 17 persen dari total cadangan minyak dunia! Posisinya pun tak main-main: negara ini masuk dalam jajaran pemilik cadangan minyak terbesar di planet ini.
Kilau minyak Venezuela pernah mencapai puncaknya di era 1970-an. Kala itu, produksinya bisa menyentuh 3,5 juta barel setiap harinya. Sayangnya, cahaya itu meredup. Produksi minyak mereka anjlok drastis dalam beberapa tahun terakhir. Data tahun lalu menunjukkan, rata-rata produksi hariannya cuma sekitar 1,1 juta barel. Jumlah itu hanya mewakili satu persen dari produksi global. Sungguh ironis untuk negara dengan cadangan sebesar itu.
Dulu, Amerika Serikat adalah pembeli utama. Namun hubungan kedua negara memburuk, disusul sanksi ekonomi yang ketat. Akhirnya, Venezuela memutar haluan. China kini menjadi tujuan ekspor terbesarnya.
Mayoritas cadangan itu berupa minyak berat, yang terkonsentrasi di cekungan Orinoco di bagian tengah negara. Tapi di balik kekayaan alam yang melimpah ruah, ada masalah klasik yang menghantui: korupsi dan kurangnya investasi. Dua hal itulah yang diduga menjadi penyebab utama Venezuela tak kunjung bisa membangkitkan kejayaan minyaknya yang dulu.
Artikel Terkait
Prabowo Paparkan Kebijakan Ekonomi ke Investor Global di Washington, Respons Positif Mengalir
Imsak Jakarta 22 Februari 2026 Pukul 04.32 WIB
DPR Soroti Risiko Pelonggaran Sertifikasi Halal dalam Perjanjian Dagang Indonesia-AS
Imsak Kota dan Kabupaten Bogor Pagi Ini Pukul 04.32 WIB