Tapi yang paling mengejutkan, tentu saja, adalah aksi militer Amerika Serikat di bawah perintah Donald Trump. Mereka menyerang Venezuela, menangkap Presiden Maduro beserta istrinya, dan membawa mereka ke AS. Langkah sepihak Trump ini, dilakukan tanpa persetujuan Kongres.
Langkah Trump itu diprediksi bakal memicu mosi tidak percaya dan memanaskan situasi politik dalam negeri AS. Di sisi lain, ada juga faktor kebijakan moneter. Bank Sentral Amerika dikabarkan akan kembali mengucurkan stimulus sebesar USD40 miliar per bulan untuk buyback obligasi. Kebijakan ini memberi tenaga tambahan bagi emas untuk terus menguat.
Selain ketegangan, Ibrahim juga melihat secercah sisi positif dari pemulihan ekonomi China pasca krisis properti. Data infrastruktur akhir 2025 mereka terlihat solid. Meski sentimen positif dari Asia ini ada, Ibrahim tetap memperingatkan bahwa sentimen "perang" masih mendominasi pasar.
Ketegangan internasional pasca penangkapan Maduro dipastikan memicu kecaman luas, dari Rusia hingga negara-negara Eropa. Dalam situasi seperti ini, aset aman seperti emas akan jadi buruan utama para investor yang mencari perlindungan. Pekan depan, semua mata akan tertuju pada grafik yang bergerak liar itu.
Artikel Terkait
Raja Tuna Jepang Rogoh Rp54,6 Miliar Demi Ikan Pembuka Tahun Baru
BNN Gerebek Pabrik Liquid Vape dan Happy Water di Apartemen Mewah Ancol
Prabowo Minta Program Makan Gratis Dibenahi, Anggaran Rp335 Triliun Dinilai Cukup
34 Kota Siap Olah Sampah Jadi Listrik, Proyek Dimulai 2026