Kemenag sendiri mengaku terus berkoordinasi dengan pemda dan relawan untuk mempercepat pemulihan. "Kami terus melakukan pendampingan," tegas Khairul.
Prinsipnya jelas: proses belajar mengajar hanya akan dijalankan jika kondisi benar-benar aman dan nyaman untuk siswa maupun guru. Keselamatan tetap nomor satu.
Sementara itu, dari sisi pimpinan, Kepala Kanwil Kemenag Aceh Azhari menegaskan komitmennya. Baginya, pendidikan adalah layanan dasar yang harus dipulihkan secepat mungkin, meski dalam kondisi serba terbatas.
"Pendidikan adalah layanan dasar yang harus segera dipulihkan. Namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama," kata Azhari.
Ia juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu. Solidaritas dari relawan, aparat, hingga warga sekitar dinilai sangat mempercepat proses pembersihan dan perbaikan.
Harapannya jelas. Dengan berangsur pulihnya madrasah-madrasah ini, hak setiap anak untuk belajar di tengah situasi darurat bisa tetap terpenuhi. Mereka berhak kembali ke rutinitas, meski mungkin belum sepenuhnya normal.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Melonjak Rp7.000, Sentuh Rp2,5 Juta per Gram
Komedi Mens Rea Pandji Pragiwaksono Berujung Laporan Pencemaran Nama Baik dan Penistaan Agama
Bauran Energi Hijau Indonesia Sentuh 15,75 Persen di 2025
Defisit APBN 2025 Sengaja Dibesarkan, Purbaya: Biar Ekonomi Tak Morat-Marit