Kemenag sendiri mengaku terus berkoordinasi dengan pemda dan relawan untuk mempercepat pemulihan. "Kami terus melakukan pendampingan," tegas Khairul.
Prinsipnya jelas: proses belajar mengajar hanya akan dijalankan jika kondisi benar-benar aman dan nyaman untuk siswa maupun guru. Keselamatan tetap nomor satu.
Sementara itu, dari sisi pimpinan, Kepala Kanwil Kemenag Aceh Azhari menegaskan komitmennya. Baginya, pendidikan adalah layanan dasar yang harus dipulihkan secepat mungkin, meski dalam kondisi serba terbatas.
"Pendidikan adalah layanan dasar yang harus segera dipulihkan. Namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama," kata Azhari.
Ia juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu. Solidaritas dari relawan, aparat, hingga warga sekitar dinilai sangat mempercepat proses pembersihan dan perbaikan.
Harapannya jelas. Dengan berangsur pulihnya madrasah-madrasah ini, hak setiap anak untuk belajar di tengah situasi darurat bisa tetap terpenuhi. Mereka berhak kembali ke rutinitas, meski mungkin belum sepenuhnya normal.
Artikel Terkait
Bawang Merah Brebes Ekspor ke Empat Negara ASEAN, Dukung Swasembada Nasional
BSI Siapkan Rp16 Triliun dan 6.000 ATM untuk Arus Tunai Lebaran
Kemlu Pastikan 45 WNI di Meksiko Aman Usai Operasi Militer Tewaskan Bos Kartel
Timnas Indonesia Bisa Naik ke Peringkat 118 Dunia Jika Juara FIFA Series 2026