437 Madrasah di Aceh Siap Belajar Tatap Muka, 63 Masih Tertunda

- Minggu, 04 Januari 2026 | 10:10 WIB
437 Madrasah di Aceh Siap Belajar Tatap Muka, 63 Masih Tertunda

JAKARTA - Hampir 90 persen madrasah di wilayah Aceh yang porak-poranda akibat bencana dipastikan siap menggelar belajar tatap muka mulai Senin besok. Angka itu, sekitar 437 dari 500 madrasah terdampak, menunjukkan pemulihan yang cukup signifikan pasca bencana hidrometeorologi yang melanda.

Khairul Azhar, Ketua Tim Tanggap Darurat Bencana di Kanwil Kemenag Aceh, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. "Alhamdulillah, mayoritas madrasah sudah siap melaksanakan PBM," ujarnya, Minggu (4/1).

Menurutnya, kesiapan ini adalah buah dari semangat luar biasa para guru, tenaga kependidikan, dan tentu saja dukungan kuat masyarakat setempat. Mereka semua berjuang agar anak-anak bisa segera kembali belajar.

Namun begitu, kabar baik ini belum sepenuhnya merata. Masih ada 63 madrasah yang belum bisa beroperasi normal. Wilayahnya tersebar di beberapa kabupaten, dengan Aceh Utara dan Aceh Tamiang jadi daerah dengan jumlah tertinggi.

Rinciannya, Aceh Utara punya 19 madrasah yang belum siap, disusul Aceh Tamiang (17), dan Aceh Tengah (14). Sisanya ada di Pidie Jaya (7), Bireuen (4), dan Bener Meriah (2).

Lalu, apa kendalanya? Khairul membeberkan sejumlah masalah yang masih menghadang. Beberapa ruang kelas masih penuh lumpur dan material banjir, belum bersih total. Akses jalan menuju lokasi sekolah pun di beberapa titik masih sulit dilalui. Bahkan, ada madrasah yang masih difungsikan sebagai tempat pengungsian. Di Bener Meriah, situasinya lebih rumit lagi karena status kawasan siaga bencana masih berlaku.

Di sisi lain, ada cerita lain yang patut diapresiasi. Sebanyak 10 lembaga pendidikan yang roboh atau hanyut ternyata sudah siap juga untuk belajar. Tentu saja, dengan syarat: mereka harus direlokasi dulu. Tempat sementara seperti masjid, meunasah, atau lapangan desa jadi solusi darurat untuk sementara waktu.

Kemenag sendiri mengaku terus berkoordinasi dengan pemda dan relawan untuk mempercepat pemulihan. "Kami terus melakukan pendampingan," tegas Khairul.

Prinsipnya jelas: proses belajar mengajar hanya akan dijalankan jika kondisi benar-benar aman dan nyaman untuk siswa maupun guru. Keselamatan tetap nomor satu.

Sementara itu, dari sisi pimpinan, Kepala Kanwil Kemenag Aceh Azhari menegaskan komitmennya. Baginya, pendidikan adalah layanan dasar yang harus dipulihkan secepat mungkin, meski dalam kondisi serba terbatas.

"Pendidikan adalah layanan dasar yang harus segera dipulihkan. Namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama," kata Azhari.

Ia juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu. Solidaritas dari relawan, aparat, hingga warga sekitar dinilai sangat mempercepat proses pembersihan dan perbaikan.

Harapannya jelas. Dengan berangsur pulihnya madrasah-madrasah ini, hak setiap anak untuk belajar di tengah situasi darurat bisa tetap terpenuhi. Mereka berhak kembali ke rutinitas, meski mungkin belum sepenuhnya normal.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar