Saudi Sambut Ajakan Dialog, Upaya Damai Yaman Selatan Mulai Menggeliat

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 14:35 WIB
Saudi Sambut Ajakan Dialog, Upaya Damai Yaman Selatan Mulai Menggeliat

Riyadh - Arab Saudi memberikan respons positif atas ajakan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi. Intinya, mereka setuju untuk menggelar dialog guna mencari solusi adil bagi konflik yang berkecamuk di Yaman selatan. Tak cuma itu, Saudi juga mendorong semua kelompok di sana untuk ikut serta dalam upaya perdamaian ini.

Permintaan itu datang langsung dari al-Alimi. Menurutnya, dialog dalam bingkai solusi politik yang komprehensif adalah satu-satunya jalan keluar. Pernyataan ini kemudian dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri Saudi lewat sebuah postingan di akun X resmi mereka.

"Dengan membangun hubungan erat antara kedua negara bersaudara dan apa yang dibutuhkan oleh kepentingan bersama dalam keadaan saat ini," begitu bunyi pernyataan resmi mereka.

Di sisi lain, Riyadh tampaknya tak ingin setengah-setengah. Mereka mendesak semua faksi di selatan untuk benar-benar aktif dalam konferensi yang akan datang. Tujuannya jelas: merumuskan kerangka kerja dan solusi yang adil untuk membahas segala persoalan di wilayah itu.

Latar belakangnya memang rumit. Konflik di Yaman, khususnya di selatan, mengalami eskalasi tajam sejak Selasa lalu. Pemicunya adalah aksi pasukan Dewan Transisi Selatan (STC) yang mengambil alih kendali atas dua provinsi kunci: Hadhramaut dan Al-Mahra. Aksi itu terjadi awal Desember.

Nah, dua provinsi itu bukan wilayah sembarangan. Luasnya gabungan hampir setengah dari total wilayah Yaman, dan yang lebih krusial, mereka berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Situasi ini jelas bikin Riyadh waspada.

Ada tuduhan serius di balik layar. Arab Saudi menuding Uni Emirat Arab (UEA) berada di belakang aksi militer STC di sepanjang perbatasan selatannya. Mereka dituding mendorong operasi tersebut. Tapi, Abu Dhabi dengan tegas membantah. Mereka menyangkal semua tuduhan itu.

Dari kubu STC sendiri, alasannya lain. Mereka merasa wilayah selatan selalu dipinggirkan, baik secara politik maupun ekonomi, oleh pemerintah Yaman yang berkuasa berturut-turut. Karena itu, mereka menyerukan pemisahan diri.

Pihak otoritas Yaman tentu saja menolak klaim itu. Mereka bersikukuh dan menegaskan kembali komitmen terhadap persatuan negara. Jadi, di tengah tarik-ulur kepentingan regional ini, ajakan dialog dari Saudi mungkin jadi secercah harapan. Tapi jalan menuju meja perundingan masih terjal dan penuh kecurigaan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar