Scroll, swipe, next. Itulah ritme kita sekarang. Dunia media sosial dipenuhi video TikTok, Reels Instagram, dan YouTube Shorts semuanya serba kilat. Tanpa sadar, kebiasaan menelan konten pendek ini membentuk opini kita dengan cepat, seringkali sebelum kita sempat mencerna informasinya dengan benar. Saya akui, termasuk saya, generasi sekarang lebih tertarik pada yang serba instan, baik video maupun tulisan singkat. Akibatnya, minat untuk membaca artikel panjang atau menonton video berdurasi lama pun makin tergerus.
Kenapa kita suka yang cepat-cepat? Mungkin karena kita nggak dituntut mikir terlalu keras. Begitu sebuah video terasa membosankan, jempol sudah refleks menggeser layar. Kita langsung tertarik pada visual yang memukau atau momen emosional yang seolah mewakili perasaan kita sendiri.
Nah, kebiasaan ini lama-lama bikin otak kita terbiasa. Ia jadi hanya menerima informasi singkat, tanpa diberi ruang untuk memahami secara mendalam. Padahal, kalau terus-terusan begini, dampaknya bisa serius, lho.
Yang paling mengkhawatirkan sih, soal penyebaran informasi ilmiah. Penjelasan yang mestinya butuh paparan lengkap, dipadatkan jadi video beberapa detik saja. Alhasil, banyak orang lebih percaya pada klaim dari video pendek itu ketimbang penjelasan ahli yang runut. Dari sini, salah paham pun merajalela di kolom komentar. Semua orang buru-buru ambil kesimpulan.
Belum lagi konten menyesatkan yang bertebaran, seringkali dibuat oleh kreator yang cuma mengejar viewer.
Daniel J. Levitin pernah bilang di tahun 2014, otak manusia nggak dirancang untuk terus-menerus diserbu informasi. Meski konten singkat itu menarik, kebiasaan mengonsumsinya justru bisa menggerogoti fokus kita. Baca artikel panjang jadi terasa melelahkan. Nonton video 10 menit? Rasanya seperti sejam. Efeknya merembet ke kehidupan nyata. Percakapan mendalam makin langka, kita sulit mencerna penjelasan guru atau atasan. Nggak heran kalau akhirnya banyak yang bergantung pada AI untuk merangkum percakapan jadi teks singkat.
Di sisi lain, pola konten cepat ini makin kuat didorong algoritma media sosial. Konten edukasi yang bermanfaat sering kalah viral dibanding hiburan singkat nan sensasional.
Pada akhirnya, kebiasaan kita mengonsumsi konten serba kilat bukan cuma membuat pemahaman jadi dangkal. Ia juga memicu lahirnya opini-opini gegabah di ruang digital. Di tengah kemajuan teknologi, media sosial seharusnya bisa jadi alat untuk mengasah nalar kritis, bukan sekadar mempercepat arus informasi yang tak pernah kita pahami betul.
Artikel Terkait
Google Sediakan Fitur Bawaan Lacak, Kunci, hingga Hapus Data Ponsel Android yang Hilang
WhatsApp Bisa Diakses Tanpa Scan Kode QR, Pakar Ingatkan Risiko Penyadapan dan Pelanggaran Privasi
YouTube Batasi Akses Pengguna di Bawah 16 Tahun di Indonesia Patuhi PP Tunas
Peneliti Temukan Spesies Baru Laba-laba Hantu di Habitat Bambu Jawa