Belum lagi konten menyesatkan yang bertebaran, seringkali dibuat oleh kreator yang cuma mengejar viewer.
Daniel J. Levitin pernah bilang di tahun 2014, otak manusia nggak dirancang untuk terus-menerus diserbu informasi. Meski konten singkat itu menarik, kebiasaan mengonsumsinya justru bisa menggerogoti fokus kita. Baca artikel panjang jadi terasa melelahkan. Nonton video 10 menit? Rasanya seperti sejam. Efeknya merembet ke kehidupan nyata. Percakapan mendalam makin langka, kita sulit mencerna penjelasan guru atau atasan. Nggak heran kalau akhirnya banyak yang bergantung pada AI untuk merangkum percakapan jadi teks singkat.
Di sisi lain, pola konten cepat ini makin kuat didorong algoritma media sosial. Konten edukasi yang bermanfaat sering kalah viral dibanding hiburan singkat nan sensasional.
Pada akhirnya, kebiasaan kita mengonsumsi konten serba kilat bukan cuma membuat pemahaman jadi dangkal. Ia juga memicu lahirnya opini-opini gegabah di ruang digital. Di tengah kemajuan teknologi, media sosial seharusnya bisa jadi alat untuk mengasah nalar kritis, bukan sekadar mempercepat arus informasi yang tak pernah kita pahami betul.
Artikel Terkait
Kemkomdigi Selidiki Dugaan Penyalahgunaan AI Grok untuk Konten Asusila
Spesifikasi Lengkap Galaxy S26 Ultra Bocor, Ada Privacy Display dan Kamera 200MP
Rahasia di Balik Pose Satu Kaki Flamingo: Bukan Gaya, Tapi Strategi Bertahan Hidup
Matahari, Sang Sutradara di Balik Panggung Cuaca