Tesla Tersalip BYD, Masa Depan Elon Musk Kini Bergantung pada Robotaxi

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:25 WIB
Tesla Tersalip BYD, Masa Depan Elon Musk Kini Bergantung pada Robotaxi

Gelar itu akhirnya lepas juga. Setelah bertahun-tahun mendominasi, Tesla resmi tak lagi menjadi produsen kendaraan listrik terlaris di dunia per Jumat lalu. Posisi puncak itu kini direbut BYD dari China, yang tahun lalu berhasil menjual 2,26 juta unit jauh melampaui angka Tesla.

Bagi perusahaan yang dulu tampak tak terbendung, ini adalah kenyataan pahit. Penjualan mereka anjlok 9 persen pada 2025, menjadi hanya 1,64 juta kendaraan. Padahal, Tesla-lah yang dulu mengubah peta industri otomotif dan mengantarkan Elon Musk ke puncak daftar orang terkaya.

Lantas, apa penyebabnya? Faktornya kompleks. Di AS, insentif pajak sebesar USD7.500 untuk pembeli EV dicabut pemerintahan Trump akhir September lalu. Itu langsung memukul penjualan. Persaingan global, terutama dari pabrikan China yang agresif, juga makin ketat.

Yang menarik, penurunan ini terjadi meski ada dukungan publik dari Presiden Donald Trump awal tahun lalu. Dia bahkan menggelar konferensi pers di depan Gedung Putih dengan barisan Tesla, memuji Musk sebagai "patriot", dan mengumumkan akan membeli satu unit. Langkah yang tak biasa bagi seorang presiden.

Namun begitu, dukungan simbolis itu ternyata tak cukup. Pada kuartal keempat, penjualan Tesla cuma 418.227 unit jauh di bawah perkiraan analis sekalipun. Sahamnya pun ikut tertekan, turun 2,6 persen di hari pengumuman.

Di tengah semua berita buruk ini, ada hal yang mencengangkan: saham Tesla justre naik sekitar 11 persen sepanjang 2025. Kok bisa? Ternyata, investor lebih memilih fokus pada cerita masa depan yang diceritakan Musk, bukan angka penjualan mobil hari ini.

Musk sendiri sudah lama mengalihkan narasi. Menurutnya, masa depan Tesla bukan lagi sekadar jualan mobil, melainkan pada layanan robotaxi, bisnis penyimpanan energi, dan robot humanoid. Ambisi itulah yang dipertaruhkan.


Halaman:

Komentar