"Bencana harus dipahami sebagai supply-side shock yang dampaknya cepat menyebar dan berpotensi menahan pemulihan ekonomi jika tidak ditangani secara terkoordinasi," tegasnya.
Lalu, seberapa besar sebenarnya basis industri di wilayah terdampak? Data dari Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) memberikan gambaran. Di Sumatera Utara, misalnya, ada 3.520 industri kecil, 115 menengah, dan 490 yang berstatus besar. Sementara Sumatera Barat punya 3.464 industri kecil, 17 menengah, dan 78 besar. Sedangkan di Aceh, tercatat 1.954 industri kecil, 7 menengah, dan 46 industri besar.
Namun dari laporan yang terkumpul hingga 30 Desember 2025, dampak terparah justru dirasakan oleh Industri Kecil dan Menengah (IKM). Aceh mencatat 1.647 IKM terdampak, disusul Sumatera Barat dengan 367 IKM, dan Sumatera Utara sebanyak 52 IKM.
"Selain itu, terdapat pula dampak pada sektor industri agro, ILMATE, serta industri kimia, farmasi, dan tekstil," kata Agus menambahkan.
Jadi, bencana ini bukan sekadar persoalan lokal. Ia seperti gelombang kejut yang merambat, mengungkap betapa rentannya mata rantai produksi kita ketika satu simpul penting terganggu.
Artikel Terkait
Ragam Jenis Kurma untuk Berbuka Puasa, dari Ajwa hingga Safawi
Pertamina Geothermal Energy Targetkan Pasang Teknologi Flow2Max® di Filipina pada 2026
Pemerintah Bentuk Tim Khusus Percepat Proyek LNG Raksasa Masela
Menteri AHY Peringatkan Krisis Air Makin Nyata, 43,5% Wilayah Defisit