Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera ternyata memberikan pukulan yang cukup berarti bagi sektor industri nasional. Menurut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dampaknya tak cuma soal pabrik yang rusak atau terendam air. Masalahnya lebih kompleks dari itu. Gangguan sistemik pada rantai pasok dan logistik justru jadi biang keladi utama.
Agus memaparkan hal itu dalam rapat perdana tahun 2026 bersama jajarannya di Jakarta, Jumat lalu. Dari pendekatan kebijakan berbasis pangsa nilai tambah, dia memperkirakan ada nilai tambah manufaktur nasional yang tertahan, kisaran Rp11 sampai Rp15 triliun.
"Nilai tersebut merupakan nilai tambah yang hilang atau tertunda sementara, bukan kerusakan permanen terhadap kapasitas industri nasional," ujarnya.
Meski bersifat sementara, dalam jangka pendek dampaknya jelas terasa. Beberapa subsektor yang paling merasakan guncangan adalah agroindustri, makanan dan minuman, kimia dasar, plus industri berbasis komoditas lainnya. Intinya, sektor-sektor yang hidup matinya sangat bergantung pada distribusi regional yang lancar.
Yang menarik, besarnya dampak ini ternyata tidak proporsional dengan ukuran basis industri di wilayah yang kebanjiran. Kenapa bisa begitu? Ternyata, peran Sumatera sebagai simpul logistik dan pemasok bahan baku untuk kawasan industri lain termasuk Jawa sangatlah krusial. Gangguan di satu titik bisa memicu efek domino yang akhirnya menekan output manufaktur secara nasional.
Menurut Agus, peristiwa ini jadi pengingat keras. Ketahanan industri kita tidak lagi hanya ditentukan oleh kokohnya gedung pabrik. Faktor seperti infrastruktur, sistem logistik, dan jaringan distribusi antarwilayah justru memegang peran yang lebih vital sekarang.
Artikel Terkait
Tesla Tersalip BYD, Masa Depan Elon Musk Kini Bergantung pada Robotaxi
Souza Tak Pusing Laga Persija Cuma Tayang Streaming, Fokusnya Penuhi SUGBK
Gempa Magnitudo 6,5 Guncang Meksiko, Interupsi Konferensi Pers Presiden
Leao Bawa Milan Kembali ke Puncak, Pesta Sementara di San Siro?