Jakarta - Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera ternyata tak hanya menyisakan duka. Di balik kerusakan infrastruktur, ada geliat industri kecil dan menengah yang terpaksa terhenti. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pun angkat bicara, menekankan pentingnya program 'restarting' untuk menghidupkan kembali sektor ini.
Data dari Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) cukup membuka mata. Di Sumatera Utara saja, industri kecil yang beroperasi mencapai 3.520 unit. Sementara di Sumatera Barat ada 3.464, dan Aceh menyusul dengan 1.954 industri kecil. Angka-angka itu menunjukkan betapa vitalnya peran mereka.
Namun begitu, bencana datang tanpa pandang bulu. Hingga akhir Desember 2025, laporan yang masuk ke Kemenperin menyebutkan Aceh menjadi wilayah terdampak paling parah. Sekitar 1.647 industri kecil di sana terpukul. Disusul Sumatera Barat dengan 367 industri, dan Sumatera Utara sebanyak 52 unit. Tak hanya IKM, sektor agro, kimia, farmasi, hingga tekstil juga ikut merasakan efeknya.
Hal ini diungkapkan Agus saat memimpin rapat perdana di tahun 2026 bersama jajarannya, Jumat lalu.
"Dari hasil laporan yang kami himpun hingga 30 Desember 2025, dampak paling besar pada sektor IKM terjadi di Aceh dengan 1.647 industri terdampak, diikuti Sumatera Barat sebanyak 367 industri, dan Sumatera Utara sebanyak 52 industri. Selain itu, terdapat pula dampak pada sektor industri agro, ILMATE, serta industri kimia, farmasi, dan tekstil," ujarnya.
Menurut Agus, masalahnya ternyata lebih kompleks dari sekadar bangunan yang rusak. Gangguan sistemik pada rantai pasok dan logistik justru jadi pukulan telak. Bayangkan saja, akses jalan dan jembatan putus. Distribusi BBM kacau. Pasokan listrik dan air pun tak stabil. Dalam kondisi seperti itu, mustahil bagi industri pengolahan untuk beroperasi normal. Banyak yang terpaksa berhenti total atau hanya bisa menjalankan sebagian kecil kapasitasnya.
"Bagi industri manufaktur yang bersifat just-in-time dan padat logistik, gangguan pasokan bahan baku selama beberapa hari saja sudah cukup untuk menghentikan lini produksi dan menimbulkan kehilangan output yang tidak kecil," jelasnya.
Menyikapi hal ini, Kemenperin sudah menyiapkan skema pemulihan. Rencananya akan dilakukan bertahap, tidak sekaligus. Di tahun 2025 ini, fokusnya lebih pada koordinasi dan pendataan mendalam. Mereka ingin memetakan kebutuhan riil di lapangan agar bantuan nantinya tepat sasaran. Progres tahap awal ini ditargetkan sekitar 20 persen.
Baru di tahun 2026, program pemulihan akan benar-benar dijalankan. Mulai dari penetapan penerima bantuan, pemberian mesin dan peralatan pengganti, hingga upaya menghidupkan kembali proses produksi. Bantuan teknis juga akan digelar, salah satunya dengan mengoptimalkan semangat kewirausahaan di daerah bencana.
Bentuk intervensinya sendiri cukup beragam. Mulai dari bantuan mesin sederhana, penyediaan starter kit usaha yang mencakup bahan baku, sampai pendampingan teknis untuk pengembangan produk. Fasilitasi kemitraan juga digalakkan agar akses pasar para pelaku usaha bisa lebih luas.
Agus berharap besar pada program ini. Bukan cuma sekadar memulihkan, tapi juga membangun ketahanan yang lebih baik.
"Melalui program restarting ini, kami berharap pemulihan industri kecil tidak hanya mengembalikan kapasitas produksi seperti sebelum bencana, tetapi juga memperkuat ketahanan dan keberlanjutan usaha agar lebih siap menghadapi risiko di masa mendatang," kata Agus menutup penjelasannya.
Pekerjaan rumahnya masih panjang. Tapi setidaknya, sudah ada peta jalan yang mulai digariskan untuk membangkitkan kembali denyut perekonomian di wilayah yang terdampak.
Artikel Terkait
Imlek dan Tahun Kuda: Refleksi Harapan Komunitas Tionghoa pada Kepemimpinan Baru
Ekspor Kerajinan IKM Melonjak Hampir Dua Kali Lipat dalam Satu Kuartal
Besok Penukaran Uang via Aplikasi PINTAR Dimulai, Ini Dokumen dan Aturannya
OJK Tegaskan Jual Beli Rekening Bank Ilegal, Ancaman Sanksi Berat Menanti