MURIANETWORK.COM - Perayaan Imlek di Indonesia telah mengalami perjalanan panjang, dari sebuah tradisi yang sempat terpinggirkan menjadi hari libur nasional yang diakui. Perubahan status ini bukan sekadar pergeseran administratif, melainkan cerminan dinamika sosial politik bangsa. Menyambut Tahun Kuda Kayu 2575, yang secara tradisional melambangkan kekuatan, keberanian, dan gerak maju, momentum ini beririsan dengan awal periode kepemimpinan nasional baru. Artikel ini menelaah makna ganda Imlek sebagai penanda perubahan sosial dan sebagai metafora untuk membaca harapan terhadap arah pemerintahan ke depan, dengan tetap menyoroti perspektif komunitas Tionghoa Indonesia.
Transformasi Imlek dalam Ruang Publik Indonesia
Posisi perayaan Imlek dalam kehidupan berbangsa telah berubah secara signifikan. Beberapa dekade silam, ekspresi budaya ini kerap terbatas pada ruang privat. Kini, ornamen berwarna merah dan berbagai simbol khasnya dapat dengan mudah ditemui di mal, ruang pemerintahan, hingga pemberitaan media utama. Penetapan hari libur nasional merupakan pengakuan negara yang patut diapresiasi.
Namun, pengakuan simbolik dan seremonial ini tidak serta-merta menyelesaikan seluruh tantangan. Di balik kemeriahan perayaan, masih tersisa pekerjaan rumah kolektif mengenai kesetaraan substantif, representasi, dan upaya menghapus prasangka berbasis identitas. Oleh karena itu, Imlek layak dipandang bukan hanya sebagai festival, tetapi juga sebagai momen refleksi tahunan bagi bangsa: sejauh mana keberagaman benar-benar dihayati dalam praktik sehari-hari, bukan hanya dirayakan pada momen tertentu.
Tafsir Tahun Kuda dan Metafora Kepemimpinan
Dalam kosmologi Tionghoa, Tahun Kuda kerap dikaitkan dengan dinamika tinggi, kecepatan bertindak, dan ketegasan dalam memimpin. Karakter kuda yang kuat dan penuh daya jelajah memang memberikan gambaran tentang gerak maju. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kuda juga merupakan makhluk yang sensitif. Kecepatan dan kekuatannya memerlukan kendali, arah yang jelas, serta empati dari sang penunggang. Tanpa elemen-elemen penyeimbang itu, energi besar justru berpotensi mengarah pada kelelahan atau konflik.
Metafora ini menarik untuk dikaitkan dengan gaya kepemimpinan yang selama ini dikenal publik dari Presiden Prabowo, yaitu ketegasan dan nasionalisme yang kuat. Tahun Kuda membawa harapan bahwa ketegasan tersebut tidak berhenti pada tataran simbol, melainkan diarahkan untuk mewujudkan keadilan sosial, menjaga pluralisme, dan meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Keberanian melaju perlu diimbangi dengan kebijaksanaan mendengar.
Harapan dari Sudut Pandang Komunitas
Bagi komunitas Tionghoa Indonesia, harapan terhadap kepemimpinan nasional pada dasarnya sederhana namun mendasar. Bukan perlakuan khusus yang diinginkan, melainkan jaminan kesetaraan sebagai warga negara. Harapan itu mencakup rasa aman dalam mengekspresikan identitas budaya, kepastian hukum yang adil, serta ruang partisipasi yang setara dalam berbagai bidang kehidupan.
Pada titik inilah, komunikasi politik dari pemegang otoritas memegang peran krusial. Negara tidak hanya berbicara melalui produk kebijakan formal, tetapi juga melalui simbol, gestur, dan narasi yang dibangun. Kehadiran negara dalam perayaan budaya, pilihan kata para pemimpin, hingga respons terhadap insiden intoleransi, semuanya mengirimkan pesan politik yang jelas tentang inklusivitas.
“Bagi komunitas Tionghoa Indonesia, kepemimpinan nasional yang ideal bukanlah sosok yang memberi perlakuan khusus, melainkan sosok yang mampu menjamin kesetaraan bagi warga negaranya,” ungkap Dr. Aprilianti Pratiwi, Dosen dan Peneliti yang mengkaji isu komunikasi lintas budaya.
Pesan Kolektif di Balik Kemeriahan
Pada hakikatnya, Imlek sarat dengan doa dan harapan akan keberuntungan, kesehatan, serta harmoni. Dalam konteks kebangsaan yang lebih luas, harapan-harapan tersebut dapat dimaknai sebagai aspirasi kolektif agar negara bergerak ke arah yang lebih adil dan inklusif. Tahun Kuda ini mengajarkan bahwa kekuatan dan kecepatan harus berpadu dengan kendali dan empati.
Imlek di Indonesia kini telah melampaui batas etnis tertentu. Perayaannya menjadi cermin untuk melihat wajah bangsa sendiri: apakah Indonesia mampu bergerak maju sebagai negara yang kuat sekaligus majemuk, tegas namun manusiawi. Seperti kuda yang melaju, kendali dan arah yang dipilih akan menentukan akhir perjalanan, apakah membawa pada kemajuan bersama atau sekadar kelelahan kolektif. Momentum pergantian tahun dalam kalender lunar ini mengingatkan semua pihak pada semangat pembaruan dan harapan akan kebersamaan yang lebih kokoh.
Artikel Terkait
BPJPH Tegaskan Produk Nonhalal Tetap Boleh Beredar dengan Syarat
Kemenhub Batasi Operasional Truk di Tol dan Arteri Selama Mudik Lebaran 2026
Ekspor Kerajinan IKM Melonjak Hampir Dua Kali Lipat dalam Satu Kuartal
Besok Penukaran Uang via Aplikasi PINTAR Dimulai, Ini Dokumen dan Aturannya