Menurutnya, data konkret ini membantah narasi-narasi yang selama ini beredar, soal Bali yang sepi dan mulai ditinggalkan. Namun begitu, ia berharap Kementerian Pariwisata bisa membantu mengurai isu tahunan itu agar tidak terus berulang.
Bagaimana dengan Wisatawan Lokal?
Di sisi lain, ceritanya agak berbeda untuk wisatawan domestik. Koster mengakui jumlahnya turun, dari 10,1 juta di 2024 menjadi 9,28 juta di 2025. Ia menduga penurunan ini tak lepas dari narasi negatif yang ramai di media sosial, padahal faktanya Bali tetap ramai dikunjungi.
Kini, tantangan utama Bali justru datang dari kesuksesannya sendiri: kemacetan dan sampah. Untuk itulah, Pemprov Bali mulai serius berbenah. Rencana pembangunan infrastruktur jalan sudah dapat dukungan dari Menteri Pekerjaan Umum. Selain itu, destinasi baru di Buleleng, Turyapada Tower, yang diklaim tak kalah dengan Menara Eiffel, ditargetkan selesai Desember 2026.
“Masalah transportasi, rencana subway dari Bandara Ngurah Rai ke Central Parkir Kuta mulai bulan April ini,” tutur Koster.
Soal sampah, solusi juga sedang dipersiapkan. Pengembangan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) oleh Danantara akan dimulai dengan peletakan batu pertama Februari 2026. “Ini sudah disetujui oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Bali jadi prioritas,” pungkasnya.
TPA Suwung rencananya ditutup 1 Maret mendatang. Sampah akan dikelola bersama komunitas masyarakat. Dengan semua langkah ini, Koster menegaskan kondisi keamanan di Bali tetap kondusif. Tak ada isu lain yang perlu dikhawatirkan, selthan menyambut masa depan yang lebih tertata.
Artikel Terkait
Hunian Sementara Berdiri Cepat di Aceh Tamiang, Dukung Korban Bencana
2026: Tahun Pesta Sepak Bola Wanita dari Asia hingga Panggung Dunia
Manufaktur Pacu Ekonomi Singapura Tumbuh 5,7% di Akhir 2025
Starlink Turunkan Ribuan Satelit Demi Hindari Tabrakan di Orbit