Angkutan umum ramai sekali selama libur Natal dan Tahun Baru kemarin. Data terbaru dari Kemenhub menunjukkan, pergerakan penumpang melonjak signifikan dibanding tahun lalu. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebutkan, akumulasi dari H-7 hingga H 5 Natal mencapai hampir 15 juta orang. Tepatnya 14.951.649 penumpang.
Angka itu naik 6,57 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya, yang hanya mencatat 14 juta lebih sedikit. Peningkatannya jelas.
"Jumlah pergerakan masyarakat yang menggunakan angkutan umum pada masa libur Nataru kali ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan sebanyak 6,57 persen," ujar Menhub Dudy dalam media briefing di Jakarta, Rabu kemarin.
Menurutnya, kenaikan ini jadi indikator bagus. Rupanya, kebijakan stimulus diskon tarif transportasi yang diamanahkan Presiden Prabowo benar-benar dimanfaatkan masyarakat. Warga memilih naik bus, kereta, kapal, atau pesawat ketimbang kendaraan pribadi.
Rinciannya? Dari Posko Pusat, penumpang kereta api paling banyak: 5,3 juta lebih. Disusul angkutan udara sekitar 3,4 juta orang. Lalu ada penyeberangan 2,5 juta, angkutan darat 2,2 juta, dan laut 1,2 juta orang. Komposisinya beragam, tapi semua moda ikut menanggung gelombang pemudik.
"Ke depan kami sangat berharap jumlahnya bisa terus bertambah sampai berakhirnya masa angkutan Nataru 2025/2026," tutur dia.
Secara umum, penyelenggaraan Nataru berjalan sesuai rencana. Namun begitu, ada catatan penting. Aspek keselamatan tak boleh lengah. Beberapa insiden kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa beberapa waktu lalu menjadi pengingat yang menyedihkan.
"Kami menyesalkan terjadinya sejumlah insiden itu. Kami berupaya mencegah terulangnya kejadian serupa di kemudian hari dan harapannya masyarakat dapat melakukan perjalanan dengan selamat, aman, dan lancar," kata Menhub.
Kini, perhatian mulai beralih ke arus balik. Menhub Dudy sudah meminta semua stakeholder transportasi bersiap. Titik-titik rawan kepadatan harus dipetakan. Kesiapan pelayanan di simpul-simpul seperti terminal, stasiun, pelabuhan, dan bandara juga harus diperkuat.
"Untuk angkutan umum, kami mendorong kesiapan cadangan armada dan penambahan petugas sesuai kebutuhan di lapangan. Adapun untuk angkutan jalan, kami bersama stakeholder terkait akan menerapkan rekayasa lalu lintas, seperti contraflow atau one way secara situasional," jelasnya.
Pesan terakhir untuk masyarakat yang akan mudik balik? Rencanakan perjalanan dengan matang. Cobalah berangkat di luar prediksi waktu puncak jika memungkinkan.
"Selalu pantau informasi terkait arus lalu lintas dan cuaca melalui kanal resmi yang tersedia. Khusus bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi, selalu patuhi aturan lalu lintas dan ikuti arahan petugas di lapangan," imbau Menhub Dudy menutup pernyataannya.
Gelombang perjalanan belum usai. Puncak arus balik biasanya justru lebih padat. Semoga semua lancar dan selamat sampai tujuan.
Artikel Terkait
Pesawat Hibah Garuda Diresmikan di Aceh untuk Simulasi Manasik Haji
Pendapatan Anthropic di India Melonjak Dua Kali Lipat dalam Empat Bulan
Ekspor Kopi Indonesia Tembus USD 1,63 Miliar, Pemerintah Fokuskan Hilirisasi
Jay Idzes Cetak Performa Solid Meski Sassuolo Kalah dari Udinese