Tak cuma itu. Rekayasa lalu lintas berupa contraflow juga diterapkan, tentu saja atas diskresi dan koordinasi dengan Kepolisian. Langkah ini bersifat situasional, tujuannya jelas: menjaga kelancaran dan mengantisipasi lonjakan volume yang bisa datang tiba-tiba.
Geliat arus balik ini ternyata tak hanya terjadi di ujung barat. Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dikelola JTT juga mengalami hal serupa. Lonjakannya bahkan ada yang hampir dua kali lipat.
Di Jawa Tengah, GT Kalikangkung mencatat 36.008 kendaraan meninggalkan Semarang, naik drastis 90% dari normal. Sementara GT Banyumanik ramai oleh 43.599 kendaraan menuju Jakarta, meningkat 71%.
Kondisi di Jawa Timur juga tak kalah ramai. GT Warugunung mencatat kenaikan 19% untuk kendaraan menuju Jakarta. GT Kejapanan Utama dan GT Singosari pun menunjukkan tren serupa, dengan peningkatan volume menuju Surabaya dan Malang yang berkisar antara 8% hingga 16%.
Singkatnya, jalan tol Trans Jawa masih menjadi urat nadi utama mudik dan arus balik. Data-data ini dengan jelas menggambarkan betapa mobilitas masyarakat selama libur panjang tetap tinggi, bahkan beberapa hari setelah hari raya.
Artikel Terkait
Lebaran Betawi 2026 Tetap Digelar di Lapangan Banteng, Wadah Silaturahmi Pasca-Idulfitri
Banten Jemput Bola Terbitkan NIB Gratis untuk Stabilkan Harga Minyakita
Operasi Penyelamatan AS Gagal Temukan Pilot Pesawat yang Diklaim Ditembak Iran
Konflik Timur Tengah Picu Kelangkaan Bahan Baku Plastik, Industri Minta Relaksasi Impor