Ancaman di jalan raya kita seringkali datang dari kendaraan-kendaraan besar. Bus dan truk, misalnya. Kecelakaan yang melibatkan mereka selalu berpotensi menimbulkan dampak yang serius. Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya?
Menurut Jusri Pulubuhu, Founder Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC), kuncinya ada di perusahaan. Perusahaan angkutan, baik barang maupun penumpang, harus memberikan perhatian lebih kepada para pengemudinya. Bukan cuma soal merekrut sopir yang sudah berpengalaman dan punya skill mumpuni.
"Tapi perlu me-manage para pengemudi tersebut," tegas Jusri.
Ia menambahkan, perusahaan sebaiknya punya kebijakan mengemudi yang jelas dan aman. Pelatihan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia juga mutlak diperlukan. Tujuannya jelas: untuk menjamin keselamatan si pengemudi sendiri, penumpang, dan semua orang yang berbagi jalan.
Dengan begitu, risiko dan kelalaian bisa ditekan seminimal mungkin.
Jusri bahkan punya pandangan yang lebih jauh. Ia merasa industri transportasi darat ini perlu mencontoh ketatnya standar di dunia aviasi atau penerbangan. Sistemnya harus benar-benar dikelola dengan serius.
"Harusnya penanganan, pengoperasian, perizinan, dan persyaratan pengoperasian PO (perusahaan otobus) itu sama dengan pengoperasian industri aviasi, yaitu ada re-sertifikasi (secara berkala)," jelasnya.
Nah, poin kritis lainnya adalah manajemen waktu. Pengaturan jam kerja dan jam istirahat pengemudi harus diatur dengan cermat dalam setiap perjalanan. Ini berlaku terutama untuk mereka yang bertugas di malam hari, atau saat ada peralihan shift dari siang ke malam.
Artikel Terkait
Jens Raven Gantikan Mauro Zijlstra yang Cedera Jelang Final FIFA Series
BCA Ikut Earth Hour, Layanan Perbankan Tetap Berjalan Normal
Bapanas Pastikan Distribusi Bantuan Pangan Berlanjut hingga April
Arus Mudik Lebaran 2026 Capai 3,5 Juta Kendaraan, Ruas Solo-Yogya Tembus 92%