Ayam Kodok: Warisan Kolonial yang Jadi Simbol Kebersamaan Natal

- Kamis, 25 Desember 2025 | 15:42 WIB
Ayam Kodok: Warisan Kolonial yang Jadi Simbol Kebersamaan Natal

Kalau kamu punya tradisi silaturahmi Natal ke rumah saudara, pasti pernah lihat hidangan yang namanya "ayam kodok" tersaji di meja. Jangan salah sangka dulu ini bukan masakan dari kodok beneran, ya. Cuma namanya saja yang begitu.

Hidangan unik ini ternyata punya sejarah panjang. Asal-usulnya dari masa kolonial Belanda, hasil akulturasi budaya yang kemudian melekat sebagai sajian khas perayaan Natal di Indonesia. Jadi, bisa dibilang ini warisan kuliner Holland yang sudah dianggap wajib oleh banyak keluarga.

Menurut sejumlah sumber, resepnya sendiri sebenarnya adaptasi dari masakan Prancis, yaitu ballotine dan galantine. Barulah kemudian muncul dalam buku masak Belanda "Indisch Kookboek" terbitan 1866 dengan nama gevulde kip alias ayam isi.

Lantas, kenapa dinamai ayam kodok? Coba lihat penampilannya. Ayam panggang utuh itu dibentuk sedemikian rupa hingga melebar, mirip sekali dengan badan dan kaki katak. Makanya, orang Indonesia langsung teringat kodok begitu melihatnya.

Proses membuatnya memang nggak instan. Butuh kesabaran ekstra. Ayam utuh dilubangi di bagian perut, lalu diisi dengan campuran sayuran, daging cincang, telur, dan rempah-rempah. Setelah itu, dipanggang perlahan sampai matang sempurna. Karena ribet dan lama, hidangan ini jadi terasa spesial dan cocok untuk momen-momen penting seperti Natal.

Di sisi lain, penyajiannya pun biasanya dibuat meriah. Satu ekor ayam kodok bisa untuk sepuluh sampai lima belas orang. Seringnya dilengkapi dengan mashed potato, saus gravy gurih, dan salad segar. Penampilannya yang ramai dan berwarna itu seolah menyuarakan filosofi Natal: penuh sukacita dan kebersamaan.

Jadi, meski namanya sedikit aneh, ayam kodok sudah jadi bagian dari memori kolektif banyak orang. Hidangan yang melekat dengan aroma keluarga, percakapan hangat, dan tentu saja, perayaan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar