Wajah bandara-bandara di Indonesia perlahan berubah. Itulah yang tengah diupayakan oleh PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, holding BUMN yang menaungi sektor aviasi dan pariwisata. Transformasi ini bukan sekadar soal cat baru atau pernak-pernik, melainkan sebuah perubahan mendasar untuk menghadirkan layanan yang terintegrasi dan benar-benar berfokus pada kenyamanan penumpang.
Maya Watono, Direktur Utama InJourney, menegaskan hal ini. Menurutnya, bandara harus menjadi lebih dari sekadar tempat naik pesawat.
"InJourney tidak hanya memastikan kelancaran operasional, tetapi juga membangun bandara sebagai bagian dari ekosistem perjalanan dan pariwisata yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat," ujar Maya dalam keterangan resminya, Rabu (24/12/2025).
Nah, momentum ujiannya adalah musim liburan akhir tahun ini. InJourney Airports, anak usahanya, sudah menyiagakan 37 bandara. Operasional dijaga 24 jam penuh. Tujuannya jelas: memastikan perjalanan udara berlangsung aman, nyaman, dan lancar meski di tengah kepadatan.
Maya juga menyoroti koordinasi dengan maskapai.
"Melalui koordinasi dengan maskapai penerbangan, InJourney Airports berkomitmen untuk menjaga ketepatan waktu serta memastikan penerapan manajemen keterlambatan berjalan sesuai ketentuan," katanya.
Dengan persiapan ini, bandara-bandara mereka diharapkan lebih siap menghadapi lonjakan penumpang. Namun begitu, kesiapan ini bukan datang tiba-tiba. Ini buah dari transformasi bertahap yang sudah dijalankan.
Transformasi itu dijalankan lewat pendekatan menyeluruh yang mereka sebut 3P: Premises (fasilitas), Process (proses), dan People (sumber daya manusia). Yang menarik, semua inisiatif ini didasarkan pada riset berkelanjutan. Mereka bahkan punya program 'mystery traveler' semacam penumpang misteri untuk mengidentifikasi titik-titik kritis yang sering merepotkan penumpang. Hasilnya kemudian ditindaklanjuti secara sistematis.
Pada akhirnya, ambisi InJourney besar. Mereka ingin bandara menjadi gerbang pertama pengalaman wisata Indonesia yang efisien, manusiawi, dan berstandar global. Wujud nyatanya bisa dilihat, salah satunya, di Bandara Soekarno-Hatta.
Bandara tersibuk di tanah air itu sedang mengalami revitalisasi dan penataan ulang zona terminal.
"Transformasi dilakukan untuk menciptakan pembagian fungsi terminal yang lebih jelas, efisien, dan berorientasi pada pengalaman penumpang," pungkas Maya.
Jadi, perubahan itu memang sedang berlangsung. Tinggal kita tunggu, apakah janji layanan yang lebih humanis dan optimal ini benar-benar akan terasa, terutama di saat-saat padat seperti libur Nataru nanti.
Artikel Terkait
Pemerintah Jamin Iuran Peserta BPJS Nonaktif dengan Penyakit Kronis Tiga Bulan ke Depan
Pemerintah Beri Tenggat 3 Bulan untuk 11 Juta Peserta BPJS Kesehatan yang Dinonaktifkan
Gubernur DKI Tegaskan Pembangunan Gedung MUI-Baznas di HI Harus Patuhi Aturan Cagar Budaya
Menkes Desak Kemensos Aktifkan Kembali 120 Ribu Pasien Kronis di BPJS