Organisasi D-8 sendiri beranggotakan sembilan negara berkembang: Azerbaijan, Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Cakupannya luas banget, dari Asia Tenggara sampai Afrika. Secara kolektif, mereka mewakili pasar yang sangat besar: populasi gabungannya sekitar 1,3 miliar jiwa dengan total PDB mencapai USD5,1 triliun. Angka perdagangan antar sesama anggota D-8 juga tak main-main, berkisar USD157 miliar. Makin jelas, kan, potensinya?
Dengan komposisi geografis yang begitu beragam, D-8 perlahan muncul sebagai blok ekonomi penyeimbang. Organisasi ini dipandang sebagai motor penggerak kerja sama Selatan-Selatan yang kian relevan.
Nah, Indonesia sudah punya tema besar untuk memandu keketuaannya: Navigating Global Shifts: Strengthening Equality, Solidarity and Cooperation for Shared Prosperity. Tema ini tak hanya ambisius, tapi juga punya akar sejarah ia sejalan dengan semangat Dasasila Bandung yang legendaris itu.
Secara konkret, fokusnya akan diarahkan pada beberapa hal. Integrasi ekonomi dan perdagangan tentu jadi prioritas. Selain itu, Indonesia berniat mendorong pengembangan ekonomi halal, mempromosikan ekonomi biru dan transisi hijau, serta meningkatkan konektivitas digital. Tak lupa, tata kelola organisasi D-8 sendiri juga akan diperkuat.
Jadi, dua tahun ke depan akan jadi periode yang cukup sibuk. Tantangannya banyak, tapi peluangnya terbuka lebar. Semuanya bermuara pada satu harapan: agar kepemimpinan ini membawa manfaat nyata, bukan hanya bagi Indonesia, tapi juga bagi solidaritas dan kemakmuran bersama negara-negara berkembang.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran: Ratusan Mobil Berplat B Antre di Pelabuhan Bakauheni
Arus Balik Lebaran Mulai Padati Tol Cipali, Sistem Satu Arah Diberlakukan
Keluarga Ungkap Anggi, Cucu Mpok Nori, Alami Tiga Kali Keguguran Sebelum Tewas
ASDP Catat Lonjakan Penumpang Hingga 5,4% di Arus Mudik Lebaran 2026