Berkendara di jalan tol itu butuh fokus dan disiplin ekstra. Bayangkan, kecepatan tinggi membuat setiap gerakan harus benar-benar diperhitungkan. Sayangnya, masih banyak pengemudi yang abai dengan kesalahan-kesalahan kecil. Padahal, di ruas tol, hal sepele bisa berakibat fatal.
Yang pertama dan paling sering terlihat: pindah lajur tanpa sein. Cuma klik lampu itu, tapi banyak yang malas. Akibatnya? Pengemudi di belakang atau samping tak punya waktu untuk antisipasi. Pengereman mendadak pun tak terhindarkan, dan tabrakan beruntun tinggal menunggu waktu.
Lampu sein itu bukan formalitas belaka. Ia adalah bahasa kita di jalan raya. Sebuah sinyal yang memberi tahu orang lain, "hei, saya mau belok" atau "saya akan menyalip". Tanpa itu, kita seperti bicara sendiri di keramaian.
Menurut pengamatan di lapangan, kesalahan ini kerap terjadi saat jalan terlihat lengang. Pengemudi, terutama yang membawa mobil kecil, langsung menyelonong pindah jalur. Padahal, aturannya jelas: nyalakan sein, tunggu sekitar dua detik, baru pindah. Itu memberi waktu reaksi bagi semua.
Di sisi lain, ada kebiasaan lain yang tak kalah mengganggu: nge-hog lajur kanan. Istilah kerennya sih lane hogger. Fenomena ini ramai diperbincangkan di media sosial belakangan ini. Intinya, pengemudi memilih berdiam di lajur paling kanan meski tidak sedang menyalip kendaraan lain.
Aturannya sebenarnya sederhana. Lajur kanan itu khusus untuk menyalip. Begitu selesai, ya minggir kembali ke lajur tengah. Sementara lajur kiri diperuntukkan bagi kendaraan berat atau yang melaju lebih pelan. Kalau aturan ini dilanggar, yang terjadi ya macet artifisial dan emosi pengendara lain memanas.
Efek domino dari lane hogging ini cukup serius. Arus lalu lintas jadi tersendat. Lebih parah, bisa memicu aksi nekat seperti menyalip dari bahu jalan. Padahal, bahu jalan itu tempat berhenti darurat. Risiko bertabrakan dengan kendaraan yang sedang bermasalah di sana sangat besar.
Kesalahan ketiga yang sering luput dari perhatian: menerobos marka chevron. Anda pasti pernah lihat pola garis-garis serong putih di sekitar pintu keluar tol atau persimpangan. Itu lah chevron.
Fungsinya jelas: sebagai pembatas yang tak boleh dilintasi. Tapi nyatanya, masih banyak yang nekat memotong jalur dengan menginjak area tersebut. Alasannya klasik: ingin cepat. Manuver mendadak seperti ini sangat berbahaya karena mengejutkan pengemudi di belakang dan memotong waktu reaksi mereka.
Pada dasarnya, chevron ada untuk mengarahkan alur kendaraan dan menciptakan zona penyangga. Ia menjaga agar tidak ada yang menyerobot jalur saat keluar-masuk tol. Singkatnya, ia adalah pagar pengaman yang tak seharusnya diterobos.
Jadi, mulai dari lupa sein, memonopoli lajur kanan, sampai menerobos chevron semua itu adalah kebiasaan buruk yang punya potensi besar mendatangkan malapetaka. Di jalan tol, kedisiplinan terhadap aturan yang terlihat sederhana justru menjadi kunci keselamatan kita semua. Sudah saatnya kita berkendara dengan lebih sadar, bukan cuma cepat.
Artikel Terkait
Indonesia Kecam Serangan ke Kilang Minyak UEA, Nilai Ancam Keamanan Energi Global
Presiden Prabowo Setujui Enam Rekomendasi KPRP, Dorong Penguatan Kompolnas dan Revisi UU Polri
iNews Media Group Luncurkan Program Campus Connect untuk Jembatani Kampus dan Industri Media
Pelajar SMK di Samarinda Meninggal Akibat Sepatu Terlalu Kecil, Sempat Alami Pembengkakan Kaki