Won Korea Selatan terus tertekan. Menghadapi pelemahan tajam mata uangnya, Bank Sentral Korea (BOK) akhirnya mengambil langkah. Pada Jumat (19/12/2025), mereka mengumumkan sejumlah kebijakan baru yang bertujuan membanjiri pasar valas domestik dengan dolar AS.
Intinya sederhana: meningkatkan pasokan greenback di dalam negeri. Langkah ini diambil karena ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan dolar dinilai sudah terlalu parah, dan itu yang menggerus nilai won.
Seorang pejabat BOK, usai pertemuan internal, mengonfirmasi hal ini.
“Kondisi di pasar valuta asing memang memprihatinkan. Ketidakseimbangannya menjadi parah, jadi kami rasa perlu perbaikan jangka pendek,” ujarnya.
Nah, apa yang akan dilakukan? Bank sentral berencana melonggarkan aturan valuta asing. Targetnya jelas: mendorong perusahaan-perusahaan dan institusi di dalam negeri untuk membawa pulang aset dolar mereka yang selama ini dititipkan di luar negeri. Dengan begitu, dolar yang beredar di pasar lokal diharapkan bertambah.
Tekanan terhadap won sendiri bukan tanpa sebab. Menurut analisis, ada arus deras investasi ke luar negeri belakangan ini. Baik dari dana pensiun nasional, korporasi besar, hingga investor ritel, semua ramai-ramai menempatkan dananya di aset luar Korea. Alhasil, permintaan dolar melonjak, sementara pasokannya terbatas.
Dampaknya langsung terlihat di grafik. Pada Kamis lalu, won sempat terjun bebas ke level 1.482,1 per dolar. Itu adalah posisi terendah yang tercatat sejak bulan April. Kalau dilihat dari paruh kedua tahun ini saja, pelemahannya sudah menyentuh lebih dari 8 persen. Cukup dalam.
Jadi, langkah BOK ini seperti upaya darurat. Mereka berusaha menenangkan pasar dengan menyediakan lebih banyak dolar, sambil berharap sentimen terhadap won bisa membaik. Efektif atau tidak, kita lihat saja perkembangan di pekan-pekan mendatang.
Artikel Terkait
OJK: Piutang Multifinance Tumbuh Tipis, Pembiayaan Digital dan Pegadaian Melesat
BPOM: Indonesia Miliki 31.000 Jenis Tumbuhan Siap Jadi Bahan Baku Kosmetik Alami
Konflik Geopolitik Global Dongkrak Biaya Produksi Kosmetik Nasional
BMW Raup Pendapatan Sebelum Pajak Rp46,98 Triliun, Anjlok 25 Persen Imbas Tarif AS dan Serbuan Mobil China