Mau contoh konkretnya? Coba bayangkan, perjalanan sejauh 10 kilometer di Eindhoven hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Bandingkan dengan kota-kota besar lain yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam.
Biaya hidupnya pun relatif lebih terjangkau. Untuk satu orang, biaya tahunannya sekitar 13.645 euro atau setara Rp 230 jutaan. Angka itu lebih rendah dibanding banyak kota besar lain di Eropa. Belum lagi sistem kesehatan Belanda yang terkenal bagus, bisa dinikmati oleh warga Eindhoven.
Meski identik dengan teknologi, kota ini tidak kering akan seni. Ada distrik kreatif Strijp-S yang menarik, juga perhelatan Dutch Design Week yang sudah mendunia. Jadi, hidup di sana nggak cuma tentang kerja, tapi juga tentang menikmati kehidupan.
Sepuluh Kota Paling 'Adem' di Dunia
Nah, ini dia daftar lengkap sepuluh kota paling tidak membuat stres menurut Remitly:
- Eindhoven, Belanda
- Canberra, Australia
- Tallinn, Estonia
- Utrecht, Belanda
- Groningen, Belanda
- Trondheim, Norwegia
- Rotterdam, Belanda
- Bergen, Norwegia
- Porto, Portugal
- Brisbane, Australia
Lalu, Mana Kota Paling Stres?
Di sisi lain, gelar yang kurang mengenakkan sebagai kota paling penuh tekanan jatuh ke New York City. Iya, kota yang tak pernah tidur itu.
Memang, kualitas udara dan layanan kesehatannya bagus. Tapi semua itu seakan tenggelam oleh biaya hidup yang melambung tinggi, salah satu yang tertinggi di dunia. Skor stres New York mencapai 7,56, sedikit mengungguli Dublin yang berada di posisi kedua dengan skor 7,55. Tampaknya, gemerlap Times Square dan kehidupan metropolitan yang serba cepat punya harganya sendiri.
Artikel Terkait
Shinta Kamdani Soroti Jalan Pintas UMKM Naik Kelas: Masuk Rantai Pasok Korporasi
Ketika AI Mencipta, Apakah Jiwa Seni Kita Tergerus?
Harga Tembaga dan Emas Melonjak, Pemerintah Tetapkan Patokan Ekspor Baru
Antrean Ribuan Pelamar, Sektor Informal Melonjak: Apindo Soroti Bom Waktu Ketenagakerjaan