OJK: Ekonomi Global Mulai Stabil, Tapi Risiko Fiskal Masih Mengintai

- Kamis, 11 Desember 2025 | 16:30 WIB
OJK: Ekonomi Global Mulai Stabil, Tapi Risiko Fiskal Masih Mengintai

Menurut Otoritas Jasa Keuangan, perekonomian dunia tampak mulai menemukan titik stabilnya. Setidaknya, itu yang terlihat hingga akhir 2025 nanti. Meski begitu, jangan dulu berlega hati. Bayang-bayang risiko fiskal dan arah kebijakan moneter dari bank sentral utama masih mengintai prospek tahun depan.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, membeberkan analisisnya dalam konferensi pers RDKB, Kamis lalu. Ia melihat tanda-tanda stabilitas itu dari kebangkitan sektor manufaktur di negara-negara maju, yang kini kembali masuk zona ekspansi.

"Perekonomian global relatif stabil yang ditandai dengan aktivitas manufaktur global berada di zona ekspansi,"

Namun begitu, Mahendra langsung memberi catatan. Sentimen pasar menuju 2026 masih diliputi kehati-hatian. Di mata para pelaku pasar global, dua hal ini yang paling mengusik: risiko fiskal yang membengkak dan tren naiknya imbal hasil obligasi jangka panjang.

Ambil contoh Amerika Serikat. Situasi ekonominya ternyata tidak seragam. Di satu sisi, pasar tenaga kerja mulai melambat. Tapi di sisi lain, tekanan datang dari penutupan pemerintahan yang berlangsung cukup lama, 43 hari, yang otomatis membebani aktivitas ekonomi.

"The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis point namun tetap memberikan sinyal hawkish di tengah tekanan fiskal,"

Lalu bagaimana dengan China? Ceritanya berbeda. Permintaan domestik di sana masih terlihat lesu. Pertumbuhan ekonomi di triwulan ketiga melambat, konsumsi rumah tangga pun seret. Penjualan ritel dan sektor properti yang melambat semakin memperumit upaya pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu itu.

Nah, kalau melihat ke dalam negeri, posisi Indonesia justru terlihat lebih solid. Mahendra memaparkan, pertumbuhan triwulan III tahun ini diperkirakan mencapai 5,04 persen. Indeks Manufaktur atau PMI juga masih bertahan di zona ekspansi, kabar yang cukup melegakan.

Tapi tentu saja, tidak semuanya mulus. Perkembangan permintaan dalam negeri tetap harus diawasi. Beberapa indikator konsumsi, seperti inflasi inti, kepercayaan konsumen, dan penjualan ritel, menunjukkan tanda-tanda moderasi. Ini yang perlu dicermati ke depannya.

Di tengah semua dinamika global dan domestik yang bergejolak ini, Mahendra menutup dengan pesan yang cukup menenangkan. Menurutnya, sepanjang 2025, ketahanan sektor jasa keuangan Indonesia secara umum masih kuat. Setidaknya, itu modal yang baik untuk menghadapi ketidakpastian.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar