Barsena Bestandhi Ubah Panggung Megah Menjadi Ruang Doa untuk Korban Bencana

- Selasa, 09 Desember 2025 | 22:00 WIB
Barsena Bestandhi Ubah Panggung Megah Menjadi Ruang Doa untuk Korban Bencana

Suasana di Graha Bakti Budaya, TIM, Selasa malam itu semula riuh. Symphonesia, konser yang mengusung 100% musik Indonesia, memulai malamnya dengan gemuruh. Orkestra megah pimpinan Erwin Gutawa mengalun, membawa penonton dalam gelombang nostalgia lewat lagu-lagu hits.

Di tengah kemeriahan itu, Barsena Bestandhi naik ke panggung. Bersama Barasuara, Rahmania Astrini, dan Adrian Khalif, ia menjadi salah satu penampil utama. Suaranya yang khas membawakan "Panah Asmara" dan "Andai Aku Bisa" dengan aransemen orkestra yang memukau. Penonton larut, sampai kemudian suasana berubah.

Sebelum membawakan lagu originalnya, "Ruang Baru", ia mengambil jeda. Gedung yang tadinya ramai mendadak hening. Barsena, dengan suara yang mulai bergetar, mengingatkan semua orang tentang sesuatu di luar tembok konser yang nyaman itu.

"Saya sangat bersyukur bisa tampil di sini. Namun kita harus ingat, saudara-saudara kita di Sumatera banyak yang masih kesulitan karena bencana. Kita doakan bersama, ya," ujar Barsena.

Kalimat itu menggantung, menyentak kesadaran. Dalam sekejap, ia menyoroti kontras yang begitu tajam.

Dari Panggung Megah ke Renungan tentang Lumpur

Barsena lalu bercerita. Ia membandingkan kemewahan yang ada di depan matanya dengan keprihatinan di lokasi bencana. "Saya melihat di sini banyak teman-teman cantik-cantik bajunya, ganteng-ganteng. Tapi di sana, mereka mengenakan pakaian yang sama, yaitu baju coklat karena lumpur dan banjir," tuturnya. Ajakan untuk berempati itu terasa begitu natural, bukan sekadar pesan yang dipaksakan.

Lagu "Ruang Baru" yang dikenal sebagai soundtrack film "My Annoying Brother" pun ia dedikasikan secara khusus. Lagu tentang keikhlasan dan harapan itu, katanya, akan ia nyanyikan sebagai sebuah doa.

"Saya menyisipkan doa di lagu ini, lagu Ruang Baru. Kalau misalnya teman-teman ingin ikut berdoa, boleh dengan kita bernyanyi bersama," ajaknya lagi.

Dan benar saja. Saat musik mengalun, nuansanya berbeda. Gesekan biola orkestra Erwin Gutawa terdengar lebih dalam, lebih menghanyutkan. Setiap lirik yang keluar dari mulut Barsena terasa seperti permohonan. Ia berhasil, tanpa terkesan menggurui, mengubah panggung konser yang glamor menjadi sebuah ruang doa kolektif. Penonton yang tadinya berdecak kagum, kini banyak yang terdiam, ikut merenung, atau menyanyi pelan dengan mata berkaca-kaca.

Malam itu, Symphonesia tidak hanya tentang musik. Lebih dari itu, ia tentang manusia dan empati yang dihidupkan di antara not-not lagu.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar