Tiga Pilar Keamanan Bergerak Satu Napas Tangani Bencana Sumatera

- Selasa, 09 Desember 2025 | 01:15 WIB
Tiga Pilar Keamanan Bergerak Satu Napas Tangani Bencana Sumatera

Jakarta diguyur hujan deras Senin siang itu. Tapi di kompleks pemerintahan, suasana justru tegang dan serius. Menko Polkam, Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, baru saja memimpin rapat terbatas yang menghadirkan pucuk pimpinan keamanan negara: Panglima TNI, Kapolri, dan Kepala BIN. Agenda tunggalnya adalah penanganan bencana di Sumatera. Waktunya memang mendesak.

“Dalam situasi darurat seperti ini, yang dibutuhkan adalah kecepatan, ketepatan, dan soliditas yang terkolaborasi,” tegas Djamari usai rapat.

Dia melanjutkan, “TNI, Polri, dan BIN bergerak dalam satu napas. Titik beratnya jelas: memastikan keselamatan rakyat, distribusi bantuan, serta stabilitas keamanan tetap terjaga.”

Lalu, bagaimana eksekusinya di lapangan? Angkanya cukup menggambarkan skala respons pemerintah. TNI mengerahkan hampir 31.000 personel dari semua matra darat, laut, udara. Mereka tak sendirian. Armada pendukung seperti 18 pesawat, 36 helikopter, dan 16 kapal laut juga dikerahkan, termasuk kapal angkut untuk logistik. Tujuannya sederhana: menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang terisolasi total.

Di garis depan, TNI AD dengan lebih dari 21.700 personelnya punya tugas berlapis. Mulai dari membuka akses jalan yang longsor, mengevakuasi korban, sampai mendirikan dapur umum dan shelter darurat. Mereka juga jadi tulang punggung layanan kesehatan lapangan. Hingga saat ini, sekitar 1.559 ton bantuan logistik sudah dikirim. Sebagian bahkan harus di-drop dari udara karena medan yang benar-benar tak bisa dilalui.

Di sisi lain, Polri tak kalah sigap. Sekitar 497 personelnya sudah berada di titik rawan seperti Aceh, Sumut, dan Sumbar. Mereka dapat penguatan lagi, berupa 219 personel tambahan dari Brimob, tim medis, unit K-9, hingga DVI yang khusus dikirim ke Sumatera Utara. Evakuasi dan identifikasi korban jadi prioritas, tapi pengamanan lokasi bencana juga tak boleh lengah.

Dua pesawat angkut Polri membawa 3,8 ton logistik penting. Isinya beragam, dari makanan siap saji, obat-obatan, sampai genset dan perangkat WiFi portabel. Idenya jelas: di tengah chaos, komunikasi harus tetap hidup. Selain itu, Polri juga mendapat mandat untuk memperbaiki jalan dan menjaga stabilitas. Ini penting untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, seperti penjarahan atau kerusuhan, di saat masyarakat sedang paling rentan.

Lalu, di balik layar, peran BIN punya warna tersendiri. Melalui jaringan intelijennya di tiga provinsi terdampak, mereka melakukan pemantauan ketat. Kerjanya meliputi monitoring ancaman, pemetaan risiko lanjutan, hingga pengawalan distribusi bantuan agar tepat sasaran. Semua data dan analisis strategis mereka kirim ke pemerintah pusat sebagai bahan pertimbangan.

Tak cuma itu, BIN juga aktif memberikan peringatan dini. Baik untuk potensi bencana susulan maupun kerawanan sosial yang mungkin timbul. Dengan begitu, setiap keputusan taktis dan kebijakan nasional bisa lahir dari informasi intelijen yang akurat, bukan sekadar asumsi.

Menurut Djamari, kolaborasi ketiga pilar ini dirancang bukan untuk jangka pendek semata. “Ini juga untuk pemulihan jangka menengah hingga stabilisasi pascabencana,” ujarnya.

“Soliditas ini adalah wajah negara di saat rakyat sedang dalam kondisi paling rentan,” pungkasnya. “Kami memastikan bahwa bantuan tidak hanya cepat sampai, tetapi juga tepat sasaran, aman, dan berkelanjutan.”

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar