Upaya transisi energi di Indonesia terus digeber. Pemerintah, bersama sejumlah mitra, tak henti mencari cara untuk mempercepat proses ini. Salah satu motor pendanaannya adalah skema Just Energy Transition Partnership atau JETP, yang diluncurkan bersama International Partners Group (IPG) pada 2022 lalu. Nah, yang menarik, komitmen dananya ternyata terus bertambah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut peningkatan ini sebagai bukti kepercayaan dunia. Menurutnya, komunitas internasional melihat seriusnya komitmen Indonesia dalam mengembangkan energi baru terbarukan (EBT).
"Komitmennya (awal) USD20 miliar dan sekarang sudah meningkat menjadi USD21,4 miliar, di mana USD11 miliar dari IPG dan USD10 miliar dari GFANZ (Glasgow Financial Alliance for Net Zero),"
Ucap Airlangga di Jakarta, Jumat lalu. Dia menegaskan, angka itu bukan sekadar janji di atas kertas.
Dari total fantastis tersebut, sekitar USD3,1 miliar disebut sudah berhasil dimobilisasi. Sementara itu, negosiasi untuk proyek-proyek konkret masih berlangsung untuk bagian lain, yakni sekitar USD5,5 miliar. Artinya, pekerjaan nyata sudah mulai berjalan.
Lalu, proyek apa saja yang jadi prioritas? Beberapa yang sudah berjalan atau diidentifikasi antara lain Green Corridor Sulawesi dan program untuk menggantikan pembangkit listrik diesel. Selain itu, ada juga pengembangan panas bumi di Sumatera serta proyek mengubah sampah menjadi energi, yang dikombinasikan dengan ASEC.
Di sisi lain, mitra-mitra internasional juga punya masukan. IPG meminta Indonesia memprioritaskan proyek solar rooftop atau panel surya atap. Mereka juga mendorong perencanaan yang lebih matang untuk energi terbarukan lainnya, sekaligus percepatan proses tender. Permintaan ini sejalan dengan RUPTL PLN 2025-2034 yang sudah menargetkan 70 GW energi terbarukan.
Dukungan tak cuma soal uang. Airlangga menyoroti bantuan teknis dari negara seperti Inggris dan Irlandia, yang menyumbang studi tentang "Just Framework". Intinya, studi ini memberi peta jalan untuk memastikan transisi energi berjalan inklusif dan memperkuat ketahanan ekonomi. Pemerintah Jepang pun disebut memberikan apresiasi terhadap laporan kemajuan JETP yang sedang diselesaikan.
Menutup paparannya, Airlangga kembali menekankan besarnya angka komitmen tersebut.
“Karena itu dengan ketersediaan dana sebesar USD21,4 miliar adalah sebuah dana yang besar dan itu tergantung kepada Indonesia dan lintas kementerian untuk mengakselerasikan,"
Pungkasnya. Tantangannya kini ada di eksekusi.
Sebagai catatan, JETP ini adalah perjanjian besar antara Indonesia dengan IPG yang dipimpin AS dan Jepang untuk mendorong transisi energi bersih. Targetnya ambisius: memajukan pencapaian Net Zero Emissions ke tahun 2050 (dari sebelumnya 2060), mengatur puncak emisi sektor ketenagalistrikan sebelum 2030, dan menaikkan porsi EBT dalam bauran energi menjadi minimal 34 persen pada dekade yang sama.
Intinya, dana segunung ini terutama akan dipakai untuk dua hal besar: mempensiunkan PLTU batu bara lebih cepat dari jadwal, dan membangun infrastruktur energi terbarukan skala besar. Perjalanan masih panjang, tapi setidaknya, pendanaan mulai mengalir.
Artikel Terkait
Kemensos Berhentikan 49 Pendamping PKH Sepanjang 2025 Akibat Langgar Aturan Penyaluran Bansos
Mensos Gus Ipul Tegaskan Tak Akan Intervensi Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat Senilai Rp27 Miliar
Pendapatan IMAX Turun 6,5 Persen di Kuartal I 2026, Laba Bersih Anjlok 26 Persen
Komisi Reformasi Polri Serahkan Laporan Rekomendasi Setebal 3.000 Halaman ke Presiden Prabowo