AS Tembak Mati 82 Tersangka Kurir Narkoba dalam Serangan di Perairan Venezuela

- Rabu, 03 Desember 2025 | 06:40 WIB
AS Tembak Mati 82 Tersangka Kurir Narkoba dalam Serangan di Perairan Venezuela

WASHINGTON Operasi militer Amerika Serikat di perairan Belahan Bumi Barat kembali memanas. Pentagon mengonfirmasi telah melancarkan 21 serangan kinetik yang menargetkan kapal-kapal asal Venezuela. Kapal-kapal itu diduga kuat sedang mengangkut narkoba untuk diselundupkan ke wilayah AS, baik melalui rute Karibia maupun Pasifik.

Akibat serangan-serangan itu, korban jiwa berjatuhan. Juru bicara Departemen Pertahanan AS, Kingsley Wilson, menyebut angka yang cukup mencengangkan: 82 orang tewas.

“Hingga saat ini, telah terjadi total 21 serangan kinetik terhadap kapal-kapal pengangkut narkoba di belahan bumi kita, dengan 82 teroris narkotika tewas,” ujar Wilson, Rabu (3/12/2025).

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Pete Hegseth memberikan penjelasan lebih gamblang. Dalam rapat kabinet bersama Presiden Donald Trump di Gedung Putih, Selasa, Hegseth mengaku militer AS sempat jeda sebelum akhirnya kembali menggencarkan operasi.

“Kita baru saja mulai menyerang kapal-kapal pengangkut narkoba dan mengirim teroris narkotika ke dasar laut karena mereka telah meracuni rakyat Amerika,” tegas Hegseth.

Menurutnya, jeda operasi terjadi karena intelijen kesulitan melacak kapal pembawa narkoba pasca-operasi dimulai pada September lalu. Ya, sejak awal September itulah Presiden Trump memberikan lampu hijau untuk serangkaian serangan di lepas pantai Venezuela. Serangan itu, yang oleh banyak pihak dianggap main hakim sendiri, langsung memantik reaksi.

Tak sedikit anggota parlemen AS sendiri yang menyoroti langkah Trump ini. Mereka curiga, pemerintahan saat ini hanya mencari-cari pembenaran untuk aksi militernya. Kritik bahkan datang lebih keras dari luar.

Lembaga HAM internasional dan sejumlah negara Amerika Latin nyaris bersuara satu. Mereka mengecam keras operasi AS tersebut, menyebutnya tak lebih dari eksekusi di luar proses pengadilan. Gelombang protes ini sepertinya belum akan mereda, sementara kapal-kapal perang AS masih berpatroli di perairan hangat itu.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar