Optimisme Terukur: Bos Asia Tenggara Percaya Diri di Kawasan, Waspada pada Dunia

- Rabu, 03 Desember 2025 | 02:25 WIB
Optimisme Terukur: Bos Asia Tenggara Percaya Diri di Kawasan, Waspada pada Dunia

Deloitte baru saja merilis laporan survei pertamanya untuk kawasan APEC, dan hasilnya cukup menarik. Laporan bertajuk "Bridging the Certainty Gap" itu berusaha memotret suasana hati para bos besar di Asia Pasifik. Mereka ditanya soal prospek bisnis, ancaman, hingga peluang apa yang mereka lihat ke depan, tak terkecuali soal dampak teknologi dan AI yang kian merasuk.

Survei ini melibatkan lebih dari 1.200 eksekutif puncak dari 18 negara. Di dalamnya, ada respons dari lebih dari 270 pemimpin bisnis yang berbasis di Asia Tenggara, berasal dari berbagai sektor industri.

Kalau dilihat, optimisme para pemimpin di Asia Tenggara ini ternyata terukur. Mereka punya keyakinan kuat pada prospek perusahaan sendiri dan melihat banyak peluang di kawasan APEC. Namun begitu, sikap mereka berubah jadi lebih berhati-hati saat menatap kondisi ekonomi global yang lebih luas.

Angkanya cukup jelas: 75% percaya pada masa depan perusahaan mereka, dan 66% optimis dengan ekonomi APEC. Tapi sentimen positif itu anjlok jadi hanya 46% ketika yang dibahas adalah ekonomi global.

CEO Deloitte Southeast Asia, Eugene Ho, punya penjelasan untuk fenomena ini.

"Para pemimpin bisnis di Asia Tenggara percaya diri terhadap kinerja perusahaan mereka dan melihat peluang nyata di kawasan APEC, namun tetap berhati-hati terhadap prospek ekonomi global. Kami melihat ini sebagai sebuah certainty gap yang perlu dijembatani dengan visi strategis untuk mengubah disrupsi menjadi peluang," ujarnya.

Menurut Eugene, temuan survei menunjukkan cara para eksekutif mengelola risiko. Mereka cenderung mendiversifikasi rantai pasok dan menahan dulu investasi besar-besaran di tengah gejolak geopolitik. Untuk mendongkrak pertumbuhan saat ini, andalan utama mereka adalah teknologi. Sementara untuk jangka panjang, inovasi dan isu keberlanjutan jadi prioritas.

Mereka juga mulai serius mengintegrasikan AI, bukan cuma untuk efisiensi, tapi juga memperkuat ketahanan operasional. Di sisi lain, persiapan untuk memenuhi kewajiban pelaporan dan pembiayaan berkelanjutan juga digenjot.

"Agilitas yang bertujuan seperti ini menyiapkan perusahaan untuk pertumbuhan berkelanjutan, yang didukung oleh kerja sama dalam blok APEC," kata dia.

Arah Pertumbuhan: Dari Efisiensi ke Inovasi

Soal strategi berkembang, ada pergeseran yang menarik. Fokus pada efisiensi operasional pelan-pelan mulai ditinggalkan. Gantinya, ekspansi yang digerakkan oleh inovasi dan pencarian pasar baru di luar batas negara jadi primadona. Lingkungan bisnis yang dinamis dan berubah cepat memang menuntut adaptasi semacam ini.

Saat ini, 45% responden di Asia Tenggara masih menempatkan adopsi teknologi sebagai motor pertumbuhan utama. Tapi prediksi untuk tiga tahun ke depan berbeda. Sebanyak 47% eksekutif menyatakan akan memprioritaskan pengembangan produk dan inovasi naik tajam dari angka 28% saat ini.

Ekspansi geografis juga diprediksi makin kencang. Para CEO memperkirakan kontribusi pendapatan dari ekonomi APEC akan melonjak lebih dari dua kali lipat, dari 17% menjadi 35% dalam tiga tahun.

Rantai Pasok Jadi Aset Strategis

Pandangan terhadap rantai pasok pun berubah. Ia tak lagi sekadar urusan logistik belaka, tapi sudah dipandang sebagai aset strategis yang harus adaptif dan lincah. Singkatnya, rantai pasok yang tangguh bisa bikin perusahaan unggul dalam persaingan.

Dalam setahun ke depan, separuh dari pemimpin bisnis di Asia Tenggara berencana memperluas atau mendiversifikasi rantai pasok mereka. Caranya beragam, dari membangun hub regional, menambah pemasok cadangan, sampai memantau kinerja logistik secara digital. Hanya segelintir kecil, sekitar 12%, yang merasa rantai pasok mereka tak akan terganggu.

Isu keberlanjutan juga makin mengemuka. Memang, untuk jangka pendek (12 bulan ke depan), hanya 21% yang merasa keberlanjutan akan mengganggu strategi bisnis. Tapi dalam kerangka waktu tiga tahun, persentasenya melesat hampir dua kali lipat menjadi 40%.

Hal ini sejalan dengan fakta bahwa 69% responden menganggap keberlanjutan sebagai komponen krusial dalam strategi permodalan mereka. Tampaknya, perhatian pada pembiayaan berkelanjutan di kawasan APEC memang makin sulit diabaikan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar