Bayangkan gedung-gedung tua di kawasan Kota Tua yang bisu itu tiba-tiba hidup. Di sanalah, JakMime Fest 2025 hadir dengan semangat baru. Seni pantomim, yang sering dianggap sebagai bentuk seni yang sunyi dan hampir terlupakan, ternyata masih bisa menari dengan gagah.
Di balik semua itu, ada sosok Septian Dwi Cahyo, seorang legenda. Dialah yang menggagas tema "Funtomime". Tema ini bukan cuma permainan kata yang lucu. Lebih dari itu, ia adalah semacam pernyataan tegas dari para pegiat seni tubuh tanpa suara. Mereka ingin bilang: lihatlah, keheningan pun bisa jadi pesta yang meriah. Imajinasi itu abadi, tak lekang oleh waktu.
Festival perdana ini rasanya seperti menjembatani masa lalu dan masa depan. Para pemainnya tidak lagi sekadar tubuh sunyi yang bergerak sendiri. Mereka kini ditemani musik, diperkuat elemen teater, dan disinari oleh beragam teknologi multimedia. Hasilnya? Setiap gerakan seolah punya gema visualnya sendiri. Hologram hadir bak roh penuntun, seolah menyatu antara dunia nyata dan dunia ide dalam satu panggung.
Di satu sudut, denting musik mengiringi langkah-langkah tanpa suara. Di sudut lain, layar-layar bergerak memancarkan warna yang melengkapi cerita yang tak terucap. Jakmime Fest 2025 ini ibarat museum gerak yang hidup. Setiap tubuh adalah lukisan, setiap ekspresi adalah warna. Setiap kolaborasi adalah upaya untuk menghidupkan kembali napas seni yang sering kita abaikan.
Tapi, puncak dari semua itu di hari pertama, tak lain adalah penampilan Septian Dwi Cahyo. Dalam sebuah segmen yang ia sebut "obituari kepada para legenda pantomim", dia berhasil membangkitkan kembali para maestro seni sunyi yang telah tiada.
Artikel Terkait
Dua Puisi, Satu Semangat: Perlawanan dalam Kata-kata Thukul dan Hanasasmit
Pesta Futsal Asia 2026: Jakarta Siap Gelar Perang Bintang di Kandang Sendiri
Sampah, Tawuran, dan Kesenjangan: Perindo dan Mahasiswa Bogor Cari Solusi di Kedai Kopi
Iran Siap Balas Serangan AS dengan Target Pangkalan Militer dan Jalur Pelayaran