Jakarta - Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Irfan, akhirnya angkat bicara soal pergeseran kuota haji untuk tahun 2026. Yang menarik, Jawa Barat justru mengalami penurunan, sementara Jawa Timur malah dapat kenaikan cukup signifikan.
Menurut Gus Irfan, perubahan ini bukan tanpa alasan. Semuanya berpatokan pada aturan main yang sudah ditetapkan Undang-Undang. "Jadi, kuota ini kita tetapkan sesuai dengan amanah Undang-Undang menggunakan dasar antrean," jelasnya saat ditemui di Kantor Kementerian Haji dan Umrah, Jakarta Pusat, Rabu (26/11).
Ia lantas membeberkan data riil yang jadi landasan. Dari total 5,4 juta antrean nasional, Jawa Timur ternyata menyumbang 1,2 juta. Posisi kedua ditempati Jawa Tengah dengan 900 ribu pendaftar, baru kemudian Jawa Barat di angka 700 ribu.
Selama ini, alokasi untuk Jawa Barat memang selalu yang terbesar. Nah, ketika aturan dikembalikan ke mekanisme UU, penurunan kuota pun jadi konsekuensi yang tak terelakkan. Tapi Gus Irfan cepat-cepat menambahkan, angka ini nggak saklek. Bisa berubah tiap tahun.
"Tapi ini bukan angka yang mati, terus seperti itu, pasti tiap tahun ada perubahan," ucapnya.
Di sisi lain, pergeseran komposisi ini juga dipengaruhi tahun pendaftaran jemaah yang kini masuk masa berangkat. Misalnya, jemaah Jawa Barat yang berangkat tahun ini adalah mereka yang mendaftar pada 2013 dan 2014. Sementara kenaikan untuk Jawa Timur datang dari pendaftar tahun 2011 dan 2012.
Artikel Terkait
Wamen Investasi: Perizinan Berbelit Sebabkan Indonesia Kehilangan Potensi Investasi Rp1.500 Triliun
Mendag Targetkan Transaksi TEI 2026 Capai USD 17,5 Miliar
Imsak Jakarta Jumat 27 Februari 2025 Pukul 04.33 WIB
Gubernur DKI Targetkan Program LPDP Jakarta Dimulai 2027, Sempat Terhambat Pemotongan DBH