“Beberapa kampus bahkan sudah berhasil menciptakan lapangan kerja yang menyerap ratusan pekerja lokal lewat inkubator bisnis kampus,” jelas Bamsoet. Model semacam ini, menurutnya, harus diperluas, distandarisasi, dan dapat dukungan pendanaan negara serta insentif fiskal.
Perkembangan teknologi yang kian pesat juga jadi perhatian serius. Cepatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) dan otomasi industri mengancam banyak pekerjaan administratif dan operasional. Pekerjaan entry level paling rentan tergantikan. Sementara itu, peluang baru justru muncul di sektor inovasi digital, riset terapan, dan ekonomi kreatif berbasis keahlian teknologi.
“Memang, tidak semua profesi akan digantikan robot atau AI,” ujarnya. Tapi manusia harus punya nilai tambah. Di situlah kreativitas, empati, kepemimpinan, dan kemampuan memahami masalah sosial menjadi kunci. Di titik inilah perguruan tinggi harus mengambil peran strategis.
Bamsoet juga menekankan pentingnya pendidikan karakter dan kecerdasan sosial. Dalam konteks persaingan global, Indonesia butuh lulusan yang punya integritas moral, disiplin, dan mampu berkolaborasi lintas budaya.
“Kita butuh manusia Indonesia yang adaptif,” pungkasnya. Ketika lulusan mampu mengangkat potensi daerah, menyelesaikan masalah di sekitarnya, dan membangun usaha yang memberdayakan, barulah pendidikan tinggi benar-benar menjalankan perannya.
Acara wisuda tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan dari LLDikti Wilayah III Jakarta, Prof. Arief selaku Ketua Pembina Yasma PB. Soedirman, serta Dr. Nendi Juhandi, Ketua STIE Kusuma Negara, beserta jajaran senat dan sivitas akademika lainnya.
Artikel Terkait
APINDO dan Produsen Listrik Swasti Khawatir Pemangkasan Produksi Batu Bara Ancam Pasokan Listrik Nasional
Luhut Kenang Keteladanan dan Kesetiaan Try Sutrisno
15 Penerbangan Internasional Batal di Bandara Bali Imbas Penutupan Ruang Udara Timur Tengah
Kejagung Geledah Puluhan Lokasi di Riau dan Medan Terkait Dugaan Korupsi Ekspor Limbah Sawit