tambahnya lagi.
Nah, soal rekayasa lalu lintas, ada beberapa langkah konkret yang sudah disiapkan. Salah satunya adalah penutupan akses putar balik (u-turn) mulai dari persimpangan Tuban hingga gerbang masuk bandara. Tapi, ini hanya akan dilakukan jika terjadi peningkatan pergerakan kendaraan yang signifikan. Jadi, tidak serta merta ditutup.
Di sisi lain, untuk malam Tahun Baru 2026 nanti, juga akan ada pengalihan arus dan penutupan beberapa ruas jalan di kawasan Kuta. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kepadatan ekstrem yang biasanya terjadi saat perayaan.
Yang tak kalah penting, menurut Aan, adalah kecepatan dalam menangani masalah. Ini harus dilakukan dengan koordinasi yang solid dari semua pemangku kepentingan atau stakeholder. Bagaimana caranya? Salah satu usulannya adalah dengan membentuk posko terpadu, baik fisik maupun digital.
“Mungkin kita bisa mengintegrasikan data semua aplikasi sehingga jika terjadi sesuatu bisa ditangani dengan cepat. Informasinya juga jadi satu dan masyarakat bisa terinformasikan apa yang terjadi,”
pungkas Aan. Dengan begitu, harapannya informasi yang sampai ke masyarakat juga lebih terpadu dan akurat, menghindari kebingungan di tengah situasi padat.
Artikel Terkait
Kampung Haji Indonesia di Makkah Tertunda, Baru Bisa Digunakan 2027
30 Ribu Hektare Tambak Aceh Hancur Diterjang Banjir, Puluhan Ribu Pembudidaya Terpukul
Kasus Korupsi di Kantor Pajak, DJP Tegaskan Pelayanan Tetap Berjalan
Jay Idzes Tahan Ferguson, tapi Sassuolo Tumbang di Kandang AS Roma